Home / KBAI Reportase / TEPAK: Tangisan dari Korban ‘Pengelem’
Pekerja Sosial: Tirani Larasati 'Lana', Maria Josefin Barus 'Maria', Mila Ramarinda 'Arin' Firda dan Penti dalam Temu Penguatan Anak dan Keluarga di LKS Kharisma Palembang
Pekerja Sosial: Tirani Larasati 'Lana', Maria Josefin Barus 'Maria', Mila Ramarinda 'Arin' Firda dan Penti dalam Temu Penguatan Anak dan Keluarga di LKS Kharisma Palembang

TEPAK: Tangisan dari Korban ‘Pengelem’

Problematika keluarga dalam sulitnya menangani anak yang menjadi korban ‘ngelem’, pecah dengan tangis para orangtua dan anak pada Temu Penguatan Anak dan Keluarga di Sumatera Selatan.

Acara ini merupakan proses lanjutan dari penjangkauan ke beberapa daerah oleh Pekerja Sosial, yang menemukan beberapa tempat penyalahgunaan pemakaian lem. Zat kimiawi dalam lem telah memberi efek halusinasi pada anak anak di 3 lokasi Sumatera Selatan.

Ibu Ernawati Ketua Lembaga Kesejahteraan Sosial Kharisma menyampaikan sebenarnya bukan keinginan anak anak melakukan itu. Namun karena pelarian atas kondisi rumah dan sekolah. Oleh karena itu anak anak dan orang tua kita hadirkan untuk mengikuti pelatihan membangun partisipasi anak dalam keluarga dan sosialisasi dampak kimiawi dari efek ‘ngelem’.

Adapun acara tersebut menghadirkan 2 Pekerja Sosial, 2 Pekerja Sosial Masyarakat dan 5 Pendamping dari Dinas Sosial Sumatera Selatan. Ada 3 program yang sudah dilaksanakan mulai respon kasus, asessmen dan terakhir temu penguatan anak dan keluarga ini.

Salah satu anak yang diwawancarai KBAI dengan bahasa khasnya menyatakan ‘ngelem’ kami seminggu sekali. Kalau kepalo dah pusing. Tidak bisa kalau tidak ngelem Pak.

Kami sempat menanyakan apa yang anak butuhkan agar mereka bisa berhenti ‘ngelem’. Jawaban mereka tidak bisa, mungkin Bapak bicara saja dengan guru dan orang tua kami agar tidak selalu marah.

Ada lagi seorang anak yang terus menangis ditengah pelatihan berlangsung, meski seorang Pekerja Sosial terus mendampinginya. Alasannya karena diusir ayah tiri bila tidak mau bekerja lepas sekolah. Sayangnya anak tersebut harus menjalani hingga jam 2 malam dari pabrik hingga sering dihukum sekolah akibat tidak mengerjakan PR.

Diakhir acara juga disampaikan bantuan program sekolah dan bantuan modal usaha dari PSMP Handayani Kementerian Sosial RI kepada orang tua dan anak.

About Admin

Check Also

Nahar Direktur Rehabilitasi Sosial Anak Kemensos RI membuka acara dengan pemukulan gong pada pertemuan LKSA PSAA regional Sumatera didampingi Walikota Mendan 2010 Abdillah Toha, DPR RI Deddy Iskandar, Ketum Fornas LKSA PSAA Yanto Mulya Pibiwanto dan Ketua Forum Wilayah LKSA PSAA Sumatera Rafdinal

87 Anak Dari Syiria Telah Mendapatkan Penanganan Kemensos

Upaya perlindungan kepada anak anak terpapar pemahaman radikalisme dan terorisme telah dilakukan Kementerian Sosial sejak …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *