Home / KBAI Reportase / Penanganan Anak Yatim Yang Terlambat

Penanganan Anak Yatim Yang Terlambat

Berikut salah satu kisah dari Pak Hau, yang bisa jadi angle buat kita, baca sampai habis ya, asyik kok isinya

Ini kisah nyata.

Kita perlu belajar dari kasus kasus anak sebelum mereka menjadi yatim, yang berakhir berpindah pindah pengasuhan alias tidak tertangani. Yang akhirnya terlepas dari keluarga. Apalagi anak anak yang orang tuanya meninggal, dan hidupnya berakhir di jalan.

Bagi Pak Hau, penting menceritakan ini, karena lagi ‘hot’nya para pemegang kebijakan mengurusi data anak yatim/piatu dan yatim piatu baru.

Meski Pak Hau sangat paham regulasi, namun selalu lebih baik di mulai dari cerita.

Cerita ini berawal dari malam Takbiran, ketika ada informasi anak jalanan dan gelandangan yang sedang mengemis dan mencari nafkah untuk mempertahankan hidup, tiba tiba datang satu tim aparat pemda menangkap mereka.

Sekelompok anak yang tidak enak dilihat mata, membawa alat seadanya, bertakbir.

Namun malam itu, juga ada malam pengamanan, agar keramaian masyarakat, tidak mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat. Kita lebih mengenalnya dengan operasi ketupat pada malam malam seperti itu.

Benar saja beberapa aparat, kemudian membersihkan mereka dari jalanan, karena pertimbangan aspek keamanan dan ketertiban. Karena banyaknya orang berlalu lalang malam itu. Takut ada kejadian.

Singkat cerita, karena peristiwa itu, Pak Hau bergegas menuju kantor aparat.

Setibanya, Pak Hau nampak berdebat dengan petugas. Namun ujungnya belum dapat berbuat banyak untuk anak anak jalanan dan gelandangan itu.

Pak Hau menyampaikan kekhawatirannya kepada aparat, kalau anak anak jalanan dan gelandangan tidak sopan, sehingga takut memancing emosi aparat, karena mereka baru saja di kumpulkan.

Meski tidak diijinkan bertemu, Pak Hau tetap bersikeras.

Karena khawatir, akhirnya seorang aparat memanggil komandan mereka, agar menghentikan niat Pak Hau.

Ditengah diskusi dengan komandan, Pak Hau, senang ternyata pimpinan aparat tersebut memiliki niat baik, mencari jalan keluar untuk anak anak.

Pak Hau juga menegaskan ‘pentingnya berdialog dengan mereka’. Ia menjelaskan “kebutuhan anak setiap harinya berbeda, jadi perlu kita dengarkan’.

Sama seperti anak anak kita. Untuk itu mari kita dengar alasan mereka berada di jalanan.

Sesampai bertemu dengan mereka, Pak Hau langsung menyapa dengan ucapan, “Siapa yang mau berlebaran di kantor aparat? “. Tentu saja, mereka semua menjawab ‘tidak mau.’

Pak Hau berusaha menghampiri mereka satu demi satu, karena beliau terbiasa menggali partisipasi dari anak anak dan masyarakat. Kemudian seorang anak ia pilih untuk berdialog dan di dengarkan para aparat.

Singkat cerita, kira kira dialognya begini

Pak Hau: Apa yang membuat kalian berada di jalan malam ini

Anak: kami ingin menikmati takbiran, malam yang ramai, kami senang, bisa menambah buat jajan lebaran

Pak Hau: kan tidak harus di jalan, kalau hanya takbiran bisa nonton di hp, atau besok sambil sholat Ied

Anak: Besok kami tidak bisa pak, hanya malam ini. Karena kalau besok, kami tidak lebaran namanya

Pak Hau: Kenapa?

Anak: Karena tidak mungkin pakai baju ini ke tempat sholat Ied. Apalagi makan ketupat. Kecuali kalau ada yang inget kita, nganterin ke pangkalan.

Pak Hau: iya iya saya mengerti.

Selepas itu, Pak Hau mengajak aparat berkumpul,

Pak Hau memberanikan diri menanyakan kepada aparat, apa yang mereka fikirkan setelah mendengar berdialog tadi.

Entah kenapa situasi menjadi hening. Situasi malam itu membisu hening. Dan lebih nampak orang yang terenyuh dan seperti menyimpan rasa sedih, setelah mendengar penjelasan anak anak anak jalanan itu

Ditengah kebisuan itu, Pak Hau berterima kasih kepada aparat yang sudah mau menerimanya.

Kemudian Pak Hau berusaha menerjemahkan dialog tadi, kira kira begini:

Bapak Ibu, memang anak jalanan mentalnya tidak sehat, tapi bukan karena bandel. Tetapi karena haknya sebagai anak dan masyarakat tidak terpenuhi.

Saya banyak dihadapkan kasus ekstrim anak yatim yang penanganannya terlambat, dan melakukan pelanggaran hukum, karena haknya tidak terpenuhi. Begitupun ketika mereka menghadapi masalah, bingung hendak kemana, bagai kehilangan rumah pelindung.

Dan memang bagi masyarakat, mereka menjadi pemandangan yang menakutkan dan mengkhawatirkan dan menakutkan, dengan rupa, wajah dan apa yang mereka pakai dan bawa.

Maklum saja masyarakat melihat pemandangan seperti itu, lebih sering di area tawuran, kekerasan, mabuk mabukan, sehingga membawa trauma. Dan berujung mereka harus di amankan. Tentu menjadi situasi yang diseragamkan dan mengarah ke stigma.

Anak yang memang sudah yatim piatu sejak lahir, terlahir di jalan. Mereka anak anak minim perhatian, kalau boleh memilih dalam setiap masalahnya, mereka ingin mengadu dengan orang kaya atau yang punya segalanya, tapi itu tidak bisa, karena cap yang diberikan kebanyakan orang kepada mereka.

Mereka biasa bekerja di tempat tempat yang tidak seharusnya, beresiko, bahkan tidak seharusnya mereka mendapatkan perlakuan seperti itu, tapi itulah kehidupan yang di kenalkan ke mereka.

Pak Hau kemudian mengajak membayangkan, Tidak kah kita rasakan indahnya suara takbir itu, tetapi anak jalanan tidak bisa merasakan keindahan itu.

Anak saya, anak aparat, anak pns, merasakan indahnya takbir itu. Karena apa?

Karena di lemari pakaiannya sudah ada baju baru, bahkan pakaian sholat dan sajadah baru, yang siap menyambut esok lebaran, bahkan didapur sudah tercium hangatnya gulai dan ketupat.

Lalu karena mereka tidak mendapatkan suasana itu, mereka ada di jalan, mereka menjual kehormatan, mengemis, supaya besok bisa berlebaran juga. Jadi anak jalanan belum tentu merasakan seperti anak anak kita.

Anak saya, anak aparat, anak pns, tidak perlu menjual diri, makanya mentalnya sehat. Tidak seperti anak anak ini.

Sebelumnya, sebenarnya Pak Hau berdebat keras, ketika menyampaikan ‘berapa kalian dibayar untuk menangkap mereka’.

Karena itulah Pak Hau sulit diijinkan bertemu mereka. Bahkan Pak Hau diminta mencabut omongan yang tidak sopan itu, nggak boleh bicara begitu.

Karena kami mengambil mereka terkait perintah regulasi kamtibmas. Dan Pak Hau justru bilang kepada aparat ‘sangat bagus dan rasional sekali penjelasannya’, karena memang sedang bertugas.

Ketika diminta mencabut pernyataan, Pak Hau menyatakan ‘saya tidak akan mencabut pernyataan, karena kalian dibantu APBD dalam menjalankan tugas itu.

Ditengah bersikeras Pak Hau, akhirnya bertemu komandan mereka, yang ternyata memiliki kecerdasan intelektual dan emosi bagus. Akhirnya dapat berdiskusi sampai sejauh itu dengan aparat.

Catatan:

Jika komandan memiliki kecerdasan emosi yang bagus, maka hal itu berbeda dengan anak jalanan.

Kalau anak anak jalanan ini sudah lama rusak, kecerdasan emosi mereka telah lama rusak, kenapa? Karena yang dibayangkan ‘mereka tentang orang tua, bapak, ibu, atau figur yang bisa melindungi’, sudah rusak, ketika melihat kerasnya kehidupan jalanan.

Anak anak jalanan harus menanggung beban hidup berat, yang tidak seharusnya.

Kalau anak anda, anak pns, anak aparat, kalau hujan ‘tidak kehujanan’, kalau panas ‘tidak kepanasan’, kalau lapar tinggal ke ‘meja makan atau ke dapur’, tinggal makan, enak dan halal. Maka kondisi psikologis anak anak andaini, cenderung stabil dan baik.

Bandingkan,

Anak jalanan dan gelandangan, kalau hujan ‘kehujanan’, panas ‘kepanasan’, kalau dingin ‘kedinginan’, kalau tidur cuaca dingin ‘kedinginan’, beratapkan langit atau di sempalan pinggiran toko. Begitupun suasana hati ketika kecewa dan mengingat kembali orang tua yang meninggalkannya.

Kalau lapar, tidak punya dapur yang menyediakan makanan. Maka dalam kondisi kehidupan yang sangat berat itu. Berdampak pada kondisi psikologis anak jalanan, ‘senggol bacok’ akibat kecerdasan emosinya sudah banyak terluka dengan kekerasan kekerasan yang diterimanya.

Selama ini nyatanya, banyak anak terhambat penanganan, sehingga mereka hidup dalam stigma kehidupan, kita sering mendengar anak yatim itu anak bandel.

Padahal Tuhan sudah memberikan petunjuk buat kita untuk mengurus anak yatim dalam surat Al Maun, dengan perintah ‘jangan bentak anak yatim’ karena rentan dan lemahnya emosi mereka. Kalau tidak ingin itu terjadi, maka anak yatim jangan dibentak, dihina, dinafikan, dan tidak melakukan kekerasan.

Ketika salah satu pengasuh bertanya pada Pak Hau, Kenapa anak anak yatim bandel, jawaban saya karena terlalu sering dibentak (baik dalam bentuk verbal, fisik, bahkan mendiamkan mereka)

Untuk itu sebelum terlambat penanganan anak yatim, mari jaga kecerdasan emosi dan kecerdasan intelektual mereka. Dengan penanganan berkelanjutan jangka panjang. Karena yang hilang dari hidup mereka bukan barang tapi kasih sayang.

Namun sayangnya beberapa anak yatim, kini berada di situasi yang makin buruk. Karena mentalnya terus melemah. Dengan mereka berada di tempat tempat berhadapan hukum. Perlu sentuhan kita semua.

Mudah mudahan setelah mendengar cerita ini, kita tahu apa yang harus dikerjakan dalam melihat besarnya data anak yatim karena Covid dan data anak anak yatim sebelum Covid.

Mari merdekakan mereka, dari kehidupan yang hilang. Agar mereka selamat.

Salam,

Pak Hau

24.8.2021

Check Also

4 Tahun Praktekkan Layanan Disabilitas, PELKESI Terbitkan Buku Panduan Menuju Rumah Sakit Inklusi

Pengalaman teman teman penyandang disabilitas datang ke rumah sakit malah stress, karena mendapatkan sikap dan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: