Home / KBAI Reportase / Kisah Bank Sampah dari Yayasan Kumala

Kisah Bank Sampah dari Yayasan Kumala

Bila anda berkendara mobil di area padat Jl Swasembada Tanjung Priok akan terasa sulitnya menembus jalan menuju Yayasan Kumala di Jalan Budidaya No. 44 Kelurahan Sungai Bambu Tanjung Priok. Namun ketika telah sampai Yayasan Kumala dan melihat produktifitas masyarakat di kawasan padat akan membawa atsmorfer tersendiri.

Bapak Dindin Komarudin fasilitator Bank Sampah di Yayasan Kumala teramat bersemangat menceritakan kisah anak anak yang singgah di Yayasan Kumala. Dari awal 1998 yayasan berdiri beragam anak singgah disini, terutama anak anak yang awalnya hidup di jalanan. Mantu saya 30 dan cucu saya sudah 24, sambil diiringi kehangatan suasana bersama anak anak. Dengan Bank Sampah kehidupan mereka berubah.

Josaphat anak Irian yang dipanggil Kiwo sudah 2 tahun menjadi operator Bank Sampah. Dia menceritakan ada beberapa jenis sampah mulai botol dan gelas plastik, kertas, ember bekas, almunium bekas dari kaleng dan besi.

Kang Budi Staf di Yayasan Kumala menjelaskan ada beberapa macam nasabah mulai dari masyarakat umum seperti ibu-ibu, ada warga binaan sekitar 160 anak dari 120 keluarga, ada juga Perusahaan seperti Pertamina, BTPN Syariah, PT. Aika Indriya (Lem Fox), PT. Monex Investama.

Untuk Nasabah Perusahaan ada komitmen mereka dari sampah yang dikumpulkan untuk kegiatan sosial yang telah disusun bersama seperti pengobatan gratis, pembagian sembako, bantuan pendidikan dan perlengkapan sekolah dan sunatan massal.

Untuk jenis tabungan ada tabungan regular yang bisa diambil setelah 3 bulan jadi nasabah, ada tabungan pendidikan yang diambil persemester atau ketika anak naik kelas dan tabungan hari raya untuk persiapan hari raya.

Kisah Hendra generasi pertama 1998 bercerita, kalau dulu saya dijalan, sekarang saya merasakan hidup normal. Bisa kerja seperti orang orang. Kalau dijalan hidup dimana mana, kehujanan, gelandangan tak menentu. Sekarang Hendra lebih teratur menjalani hidup dengan menjadi staf Bank Sampah.

Suratman salah satu yang ikut mengawal pendirian Yayasan Kumala menyampaikan, dulu kami berusaha menyampaikan situasi anak anak di kawasan tanjung priok. Sekarang kreatifitas anak anak telah berbuah manis dengan beberapa kali ke Aceh, Riau, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat sampai ke Papua melatih daur ulang sampah dan kerajianan kertas.

About Admin

Check Also

KPAI Apresiasi Kementerian, BUMN, Polri, Swasta Bantu Wujudkan Mudik Ramah Anak dan Disabilitas.

Lovita 15 tahun dan Luna 11 tahun, anak anak Tuna Netra yang mengikuti program Mudik …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *