Home / KBAI Reportase / Kami Tidak Menerima Anak Baik
Foto Anjal Kongkow
Foto Anjal Kongkow

Kami Tidak Menerima Anak Baik

‘Rentannya anak turun ke jalan, akibat program yang selalu berangkat dari hilir’ 

‘Disini tidak menerima anak baik dan membuka luas anak bermasalah’.

Itulah ungkapan pendamping anak jalanan Rian yang tak mau di tulis nama lengkapnya ketika diketemui Kantor Berita Anak di pinggiran jalan raya Tanjung Priok.

Inilah bedanya kami Mas yang sering berada mendampingi mereka. Disini justru seburuk buruk anak pasti kami terima, dari pengalaman kami mendampingi, -ada keyakinan mereka punya sisi baik, meski itu sulit dan sering membuat kami kecewa. Namun pengalaman panjang meyakinkan kami ‘seburuk buruk kelakuannya pasti ada sisi baik. Diluar penjahat, di kami mereka jadi orang baik. Disinilah kami memupuk untuk terus menguatkan niatnya. Meski kisah gelap selalu menghantui.

Menurutnya beda pendampingan kami yang dijalan dengan lembaga anak kebanyakan. Masih sedikit lembaga yang mau menerima anak anak dengan permasalahan dijalan. Sedangkan kami tidak bisa memilih. Sisi keberhasilan kami adalah mereka tidak melakukan kejahatan atau tidak turun lagi kejalan, menggelandang atau mengemis. Mudah mudahan ini yang dimaksud Pemerintah dalam program Bebas Anak Jalanan.

Kami diajak menemui seorang Ibu yang sedang memulung bersama anak anaknya. Mereka berjalan agak berjauhan. Kemudian melambaikan tangaannya memanggil si Ibu. Kedua anak sekitar umur 13 tahun dan 7 tahun terlihat akrab dan langsung mendekatinya.

Ia menjelaskan mereka adalah Pemulung yang tinggal cukup jauh dari sini. Anak Ibu ini sangat  rentan sekali turun dijalan, menjadi anak jalanan dan pengemis. Disinilah pemerintah harusnya fokus untuk mencegah, kasih dukungan. Jangan sampai mereka lebih jauh di jalan. Karena tidak ada baiknya untuk anak, baik dari kesehatan, lingkungan, kerasnya kehidupan dan ancaman. Tentunya banyak kasus yang sama mungkin ratusan bahkan ribuan.

Saya pernah berdialog dengan mereka tentang fenomena rumah singgah, gambarannya tahun ini yang tinggal disitu 50 orang. Mungkin dalam satu tahun kurang dari 10 yang tidak kembali di jalan. Artinya masih sisa 40 anak. Kemudian datang nambah baru 30 anak, tahun depan yang berhasil 5 sampai 10 anak dan datang lagi, terus berulang seperti itu. Akhirnya tidak akan pernah bebas anak jalanan. Sejarah anak dampingan kami membawa temannya dari kampung setelah entas dari jalan, membuat anak jalanan tidak pernah hilang atau berkurang. Seperti musiman.

Kadang kala anak anak menerima program bantuan dan keterampilan, namun banyak program itu hanya lewat begitu saja dan ditinggalkan. Ada juga kasus pelatihan ada, penyalurannya kerjanya tidak ada. Ada juga pembelian alat alat yang akhirnya tidak terpakai, karena programnya yang singkat.

Menurut saya yang terpenting adalah melatih cara berfikir dan mentalitas mereka, itu yang harus dituntaskan. Artinya jika tidak dibenahi cara berfikir dan mentalitasnya, program akan ditinggalkan. Artinya masalahnya A, treatmentnya B. Jangan sampai terulang lagi.

Artinya di penanganan memang repot dan biaya mahal, seperti yang saya lakukan sekarang. Akhirnya tidak ada sesungguhnya Bebas Dari Jalan, yang ada anak jalanannya yang berganti. Mereka bisa tiba tiba di Surabaya, kemudian balik lagi kesini. Jadi anak jalanan selalu beredar bahkan mereka bisa sampai Bandung, Semarang bahkan Bali.

Kisah anak jalanan yang hidup di 4 lembaga rumah singgah benar benar terjadi, setiap ada program mereka pindah pindah. Dan mereka tidak pernah terdata dengan baik karena alasan tidak ada kartu identitas. Bahkan hasil ngobrol kami mereka menggelandang dengan memarkir motornya.

Mengurangi anak rumah singgah berkeliling menjadi penting, setiap rumah singgah tidak ada alasan tidak punya data, mereka bisa di foto dan yang berwenang dapat melakukan identifikasi. Sehingga bisa dicegah mobilisasi anak jalanan dari program ke program lainnya. Artinya mobilitas anak jalanan tidak satu kecamatan, mereka bisa antar kota antar propinsi. Ada kejadian seorang anak inisial A mengamen dari Jakarta sampai Bali.

Ada cerita anak yang sudah bertahun tahun berhenti curanmor, tiba tiba kembali. Hal ini mengagetkan kami. Setelah di dalami oleh pendamping, ternyata anak tersebut merasa tidak PD alias kehilangan kepercayaan diri. Penyebabnya sangat sepele karena figur yang selama ini mendampinginya pergi. Mereka merasa kecewa.  Ini menjadi pelajaran penting, padahal sangat sepele. Ternyata mereka yang telah membaik justru kehilangan kepercayaan dan kembali ke jalanan.

Entah berapa lama saya kuat mendampingi mereka?

Mudah mudahan dengan penjelasan panjang saya ini, Kita mulai sadar dan berinvestasi di pencegahan serta pengurangan resiko. Pencegahan dengan menguatkan peran keluarga, terutama kemampuan orang tua untuk mampu mengasuh anaknya dengan baik dari sedini mungkin. Karena dari sejak dini itulah dapat dicegah.

Memang begitu berat tantangan orang tua sekarang. Tidak mungkin kalau tidak ada regulasi dan system yang mampu menyentuh mereka semua. Tidak bisa aksidental seperti yang saya lakukan sekarang. Saya akui saya hanya pemadam kebakaran, setiap ada kasus saya tangani, itupun dengan kemampuan yang saya bisa. Program Pemerintah yang selama ini dihilir harus mulai dikurangi, jangan biarkan mereka hidup di jalan.

Diakhir wawancara kami diajak bertemu dengan anak anak dampingannya. Mereka rata rata telah bekerja, ada yang buka toko, ada yang ojek online, ada yang direstauran,ada yang kerja di pabrik rumah tangga, ada di pelabuhan, ada yang jadi supir pribadi orang.

Malam ini terasa riuh ditemani hujan dan kopi yang hangat. Rian mengatakan merekalah pendamping sebenarnya, karena pernah mengalami. Ditutup gelak tawa suasana hangat dan akrab.

About Admin

Check Also

IMG_20181030_163143.jpg

Palu: Kemensos Ajak 250 Anak Anak Bermain Di Pondok Anak Ceria

Melalui dana APBN pemerintah mendukung anak anak korban bencana dengan menyalurkan bantuan sesuai kategori umur. …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *