Home / KBAI Reportase / Membayangkan Wakil Presiden dan Menteri Lewat Belakang, Akan Paham Bagaimana Disabilitas Diposisikan
IMG-20180710-WA0020.jpg

Membayangkan Wakil Presiden dan Menteri Lewat Belakang, Akan Paham Bagaimana Disabilitas Diposisikan

Indonesia melalui Bappenas mengadakan perhelatan akbar Indonesia Development Index ke 2. Acara berlangsung di Hotel Ritz Carlton Mega Kuningan Jakarta. Acara merupakan kerjasama Bappenas dan pemerintah Australia melalui program Knowledge Sector Initiative. (KSI). Dengan hastag acara #IDF2018

Acara ketimpangan dan kemiskinan di hotel mewah, bagi Joni Julianto disabilitas tuna netra, tetaplah harus diapresiasi.

Sebagaimana diketahui pada saat pembukaan acara Wakil Presiden Republik Indonesia memberi perhatian pada acara, dengan menyampaikan bicara ketimpangan dan kemiskinan di hotel mewah, kata beliau kepada Menteri Bappenas dan tamu yang hadir.

Joni melanjutkan baginya ini adalah upaya Indonesia sebagai inovasi menjawab permasalahan sosial. Namun ia mengingatkan banyak hidden isu, termasuk disabilitas yang belum menjadi isu utama.

Seperti dua sessi seksi plennary yang menghadirkan para Menteri, tidak ada yang mengangkat ‘pertanyaan kunci’ soal disabilitas.

Ketika itu tidak ditanyakan, mereka tidak akan sampai kesana. Adapun pembicara merespon isu disabilitas karena ada pernyataan audience. Harusnya isu itu melekat pada para pembicara.

Cucu Saidah sebagai participant IDF ke 2 dalam instagramnya juga mengingatkan:

‘inclusion doesnt mean you provide specific or ‘special’ space for people disability.

People with disability should include and respected as part of community.

The picture tells that you miss understand what is access for people disability.

They provide fancy crouch with the label ‘kursi khusus untuk disabilitas’ really at the very end of the room in the plennary session. It is obviously segregation

Artinya

Inklusif itu bukan berarti harus disediakan ‘ruang khusus atau spesial’ untuk penyandang disabilitas.

Penyandang disabilitas itu harus dilibatkan dan dianggap sebagai komunitas.

Foto itu menggambarkan salah memahami, apa itu yang di maksud kemudahan bagi penyandang disabilitas.

Mereka menyediakan sofa mewah dengan label ‘kursi khusus untuk disabilitas’ tetapi di paling belakang dan ujung acara (lihat foto). Sudah sangat jelas itu ‘eksklusif’.

Status itu di tag kepada Menteri Bappenas, dengan beberapa tagline seperti ‘disability is diversity’. ‘Jadikan Indonesia Aksessibel’.

Interraction, continuitas dan suistainability, menjadi 3 aspek yang harus terus dibangun secara positif untuk semua pihak, tutup Cucu.

Memang dalam foto yang di share tampak kursi khusus penyandang disabilitas ditempatkan diujung barisan akhir pada ballroom hotel Ritz Carlton.

Mungkin kalau Wakil Presiden dan para Menteri yang hadir lewat belakang akan mengetahui bagaimana disabilitas diposisikan.

About Admin

Check Also

IMG_20180921_193853.JPG

Perubahan Paradigma Layanan Untuk Penguatan Panti

Bertempat di Panti Ar Rahman Sungai Manonda, Lorong Buvundala, Kelurahan Duyu, Palu, Sulawesi Tengah, KBAI …

One comment

  1. Karena mereka berfikir disabilitas itu tidak akan memberikan kontribusi berarti bagi acara ini, sehingga di tempatkan di bagian belakang.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *