Home / KBAI Reportase / Gangguan Perilaku Membayangi PTM Kita

Gangguan Perilaku Membayangi PTM Kita

Baru saja Pembelajaran Tatap Muka sekolah dimulai, pasca anak anak 2 tahun belajar di rumah. Namun kita sudah di sajikan fataliti kekerasan di sekolah, pasca seorang Guru di Bau Bau Sulawesi Tenggara merekam video anak SD menangis karena tidak bisa menghitung dan menyebarkannya di media sosial, dengan kata kata yang meruntuhkan hati anak. Kemudian peristiwa guru di Alor NTT menghantam kepala muridnya di kelas dan meninggal akibat tidak mengerjakan PR.

Pandemi selama 2 tahun, ternyata sangat membekas di hati guru, tentang perilaku murid muridnya. Akibat lama tidak mengajar, agresifitas yang cenderung tidak terkontrol membayangi guru guru kita. Karena beban berlapis yang di hadapinya. Bahwa ada ledakan emosi yang tidak dapat dikendalikan guru akibat dampak pandemi Covid 19.

Di sisi lain, orang tua selama 2 tahun pandemi telah menggantikan peran guru. Apakah berhasil mendampingi anak dalam belajar? atau hanya menambah beban guru? Tentu hanya para orang tua yang bisa menjawabnya.

Namun kalau ditanya bagaimana pencapaian belajar dari rumah? Maka jawabannya akan beragam. Pertanyaan akan lebih emosional lagi, ketika ditanya, apakah lancar komunikasi orang tua dan guru dalam menciptakan lingkungan yang mendukung belajar anak?

Apakah selama ini, anak anak mengikuti belajar online dengan baik? Apakah anak anak melaksanakan  ulangan dengan mengerjakan sendiri atau dikerjakan orang tuanya, tanpa terlihat guru? Apakah anak mengerjakan PR nya sendiri atau dikerjakan orang tua?

Ketika tugas menghapal pelajaran, apakah anak anak mengirimkan tugas hapalan dengan benar benar sudah menghapalnya, atau membaca di layar komputer atau hpnya, dengan tanpa diketahui gurunya?

Apakah nilai bagus yang diterima anak, di masa 2 tahun pandemi belajar dari rumah, benar benar hasil dari pembelajaran anak? Apakah anak naik kelas, dengan pencapaian belajar yang baik?

Disisi lain manajemen operasional bisnis pendidikan yang berlangsung di sekolah, menganggap pembelajaran telah berhasil selama 2 tahun dari rumah. Sehingga masa PTM sekarang adalah saatnya bicara pelajaran  baru atau buku baru, jualan seragam baru, jualan alat alat pendukung pendidikan yang baru untuk anak.

Namun realitanya tidak, ternyata guru di tinggal sendirian untuk menghadapi realita murid murid yang tertinggal belajarnya.

Artinya kalau kita menjadi seorang guru, akan menghadapi beban dari ketertinggalan belajar, tuntutan menajemen bisnis sekolah untuk mengejar target pembelajaran dan pengkondisian murid muridnya.

Apakah pencapaian belajar benar benar riil, telah dicapai anak, selama 2 tahun belajar di rumah, dengan kenaikan kelas 2 kali dalam 2 tahun ajaran.

Tuntutan tuntutan ini, akan membuat guru tergagap gagap, terkaget kaget melihat perkembangan muridnya sekarang, setelah selama 2 tahun belajar dari rumah. Anggapan mereka muridnya telah mencapai tingkatan yang diinginkannya, realitanya justru menghadapi ketertinggalan belajar. Disisi lain, guru punya beban yang sama, seperti keluarga lainnya, dalam menghadapai 2 tahun pandemi.

Kalau dihitung, berarti ada masa 2 tahun ketertinggalan belajar, yang harus di kejar para Guru. Apakah mereka mampu?

Dengan realita peristiwa Guru di Bau bau Sulteng dan Alor NTT mengartikan, ada gangguan perilaku akibat beban yang berlebih di hadapi guru, dalam mengejar ketertinggalan 2 tahun dari pencapaian belajar murid murid mereka. Siapa yang akan membantu Guru?

Mari kita kejar ketertinggalan ini, dengan akselerasi belajar yang di penuhi dengan Berbagi, Perhatian dan Sentuhan (BAPERS). Jangan sampai 2 tahun ketertinggalan ini menjadi kehilangan arah, pegangan dan tujuan belajar. Sekolah harus mengubah cara belajar, di masa awal transisi PJJ ke PTM. Dengan lebih reflektif pembelajaran. Sebelum menormalkan dengan buku baru, beban kurikulum baru, beban manajemen bisnis sekolah.

 

Salam Redaksi

 

 

Check Also

Membangun Mental Anak Anak Yatim Korban Covid

Perjalanan para penjangkau keluarga korban Covid 19, seringkali terbawa larut kesedihan. Mereka mengibaratkannya dengan ‘pintu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: