Home / KBAI Reportase / 4 Tahun Praktekkan Layanan Disabilitas, PELKESI Terbitkan Buku Panduan Menuju Rumah Sakit Inklusi

4 Tahun Praktekkan Layanan Disabilitas, PELKESI Terbitkan Buku Panduan Menuju Rumah Sakit Inklusi

Pengalaman teman teman penyandang disabilitas datang ke rumah sakit malah stress, karena mendapatkan sikap dan perlakuan yang tidak memberikan harapan, pada kemudahan dan layanan. Tetapi sikap sikap mempersulit. Yang hal itu sengaja atau tidak, membuat tidak sehat malah stress, dan tambah ngedrop, ini fakta. Ini menjadi keprihatinan kita bersama. Sehingga memunculkan ide ini, buku pedoman ini

“Sunarman Sukamto – Tenaga Ahli Kedeputian V Kantor Staf Presiden”

 

Sejak 2018 Persekutuan Pelayanan Kristen untuk Kesehatan di Indonesia atau PELKESI bersama 4 rumah sakit jaringannya, yaitu RS HKBP Balige – Sumatera Utara, RS Immanuel Bandung – Jawa Barat, RS Kristen Lende Moripa Sumba Barat – NTT dan RS Woodward Palu – Sulawesi Tengah menginisiasi pelayanan inklusi.

Pengalaman 4 tahun ini kami coba bukukan, dengan meminta masukan para tokoh disabilitas yaitu Siswadi Ketua Dewan Pertimbangan Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI), Slamet Amex Thohari Ketua Indonesia-Australia Disability Research and Advocacy Network (AIDRAN), Sunarman Sukamto Tenaga Ahli Kedeputian V Kantor Staf Presiden.

Begitu juga aktifis non disabilitas menjadi kontributor buku ini, yaitu Verdina Puspita Rani Manajer Program PELKESI, Rita Hudmani Pangabean PELKESI, Ilma Sovri Yanti Kantor Berita Anak Indonesia, Anick HT dari Demokrasi.id dan Rifah Zainani dari Serikat Jurnalis Untuk Keberagaman (SEJUK).

Siswadi menyampaikan buku panduan rumah sakit inklusif PELKESI adalah pioneer dan menjadi variable penting dalam hidup disabilitas. Ia berharap apa yang sudah di mulai PELKESI, bisa masuk frontline layanan kesehatan tingkat pertama PUSKESMAS. Karena disanalah layanan terdekat disabilitas. Baginya isu disabilitas senantiasa akan berkembang, begitu juga buku ini yang sangat adaptif dengan perbaikan, sejalan dengan pengembangan teknologi, media aplikasi dan industry 4.0.

Membangun hidup Indonesia berkualitas bersama Disabilitas sebagai agen perubahan kualitas hidup Indonesia menjadi bagian penting dalam mewujudkan pelayanan kesehatan yang inklusif. Dalam buku panduan menuju RS Inklusi terbagi dalam 5 bab membahas tentang landasan berpikir dan definisi.

Terminologi dan paradigma tentang disabilitas perlu diurai untuk memberikan semacam kerangka berpikir dan perspektif umum sebelum membahas tentang rumah sakit dan layanannya. Meskipun ada beberapa paradigma yang berkembang, namun perspektifnya harus dikuatkan sebelum melangkah ke persoalan yang lebih spesifik. Dalam buku ini juga memberikan landasan awal bagaimana seharusnya berinteraksi dengan penyandang disabilitas secara umum, karena proses implementasi RS Inklusi juga harus diintegrasikan dan terkoneksi dengan sikap dan perlakuan terhadap mereka di luar tembok rumah sakit. Dijelaskan oleh Ilma Sovri Yanti dalam kesempatan tersebut.

Sunarman Sukamto menegaskan WHO sendiri punya semacam seruan global, agar semua layanan kesehatan konsen pada aksesibilitas dan akomodasi yang layak untuk penyandang disabilitas, apapun ragamnya. Sebenarnya Indonesia sudah memiliki regulasi ini, hanya kenapa implementasinya kurang greget. Sehingga ketika diajak ikut menulis buku ini, saya sangat senang, karena ini sangat fundamental, karena hak kesehatan milik semua orang, tidak hanya aspek fisik, tetapi kesehatan paripurna, sebagaimana konsep WHO.

Yohanis Jaga Ngara dari Rumah Sakit Kristen Lende Moripa Sumba Barat – NTT menyampaikan sangat bersyukur bisa dilibatkan PELKESI dalam pembuatan buku ini. Sejak awal dilibatkan kami di manajemen rumah sakit menanyakan apa kepentingannya, berapa banyak disabilitas yang akan berobat disini.

Namun dengan berproses bersama sama, kami sadar bahwa kita semua akan hidup dengan disabilitas, cepat atau lambat, karena menua, sakit, bencana atau kecelakaan. Sehingga bicara rumah sakit inklusi, adalah bicara masa depan kita dan orang orang yang kita sayangi, agar ke depan mendapatkan layanan yang akses dan perawatan yang layak.

Sejak saat itu, kami mengajak panti disabilitas untuk datang ke rumah sakit dan memberikan masukan, bahkan setelah jadi, mereka juga mencobanya. Sehingga sekarang kami memiliki kamar mandi yang bisa di pakai kursi roda, ruang perawatan yang sesuai, kami memiliki bidang miring yang sebelumnya hanya tangga tangga.

Verdina Puspita Rani berharap dengan kehadiran buku ini dapat memberikan panduan atau semacam guidelines bagi pelayanan kesehatan yang inklusif di rumah sakit jaringan PELKESI.

Check Also

Membangun Mental Anak Anak Yatim Korban Covid

Perjalanan para penjangkau keluarga korban Covid 19, seringkali terbawa larut kesedihan. Mereka mengibaratkannya dengan ‘pintu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: