Home / KBAI Reportase / Jelang HAN: KPPPA dan KPAI Dampingi Anak Anak Tanpa NIK Untuk Vaksin

Jelang HAN: KPPPA dan KPAI Dampingi Anak Anak Tanpa NIK Untuk Vaksin

Pemerintah sedang menargetkan 2 juta sehari Vaksinasi. Dengan mengerahkan semua elemen bangsa guna bahu membahu dan bergotong royong mencapai kekebalan bersama. Keinginan mulia ini tentu menjadi suatu kewajiban semua warga Negara untuk mewujudkan kehidupan yang lebih ramah bagi semua di era pandemi. Karena tanpa semua di vaksin, membiarkan kita di kuasai Virus. Satu saja tidak di Vaksin, maka bisa gagal menghadang virus Covid 19.

Untuk itu Minggu, 18 Juli Vaksinasi Kanisius mengundang anak anak panti melalui Majelis Pelayanan Sosial PP Muhammadiyah dan Forum Nasional LKSA PSAA dalam rangka Hari Anak Nasional 2021 dengan tema Anak Terlindungi – Indonesia Maju “Anak Peduli di Masa Pandemi”. 78 kehadiran mereka di Hall Jakarta Convention Center Gatot Subroto bisa terlaksana berkat kerjasama Alumni Kanisius Menteng 64, Eka Tjipta Foundation, Dompet Dhuafa, Jaringan Kerja Lembaga Pelayanan Kristen (JKLPK), KPPPA, KPAI, dan ELSAFAN siang itu.

Siang itu, 78 anak panti mendatangi Balai Sidang Jakarta Convention Center untuk mengikuti Vaksinasi Anak. Munheri Koto pendamping mereka dari Forum Nasional Panti Sosial Asuhan Anak menyampaikan anak anak bersemangat untuk datang dan juga di semangati teman temannya karena keinginannya cepat kembali sekolah, itu yang mereka rindukan. Apalagi berita luas dialog Presiden dan anak anak, yang meminta anak divaksin dulu baru sekolah.

Tomi Pratomo panitia vaksinasi kanisius yang menjemput langsung anak anak menyampaikan, diantara dari 107 yang mendaftar, ternyata di hari H, 29 anak dari Panti Amanah Benda Depok membatalkan, karena pengasuhnya terdeteksi positif, sehingga anak anak akan di SWAB terlebih dahulu. Sehingga hanya 78 anak yang hadir, dan diantara jumlah itu, ada 20 anak yang tidak memiliki NIK. Seperti diketahui NIK adalah barisan angka angka yang menyatakan warga teregister resmi Negara, yang menjadi persyaratan pendaftaran sebelum di vaksin.

Munheri Koto dari Forum Nasional Panti Sosial Asuhan Anak menyampaikan saya sudah melapor panitia Vaksiniasi Kanisius, dan di minta menunggu, karena akan di beri jalur khusus, dibedakan dengan jalur pendaftaran umum. Agar anak anak lebih safety, kata panitia.

Mereka jalan berbaris kebelakang dan berjalan menyusuri selasar Gedung Balai Sidang Jakarta Convention Center sampai main lobby, ketika masuk mereka disambut sejuk ac yang memecah panas di luar, panitia Vaksinasi Kanisius mengarahkan mereka menempati area luas di dekat lobby utama. Anak anak di atur panitia untuk baris dalam kondisi duduk. Mereka mendengarkan panitia menjelaskan proses yang akan mereka lalui. Lalu dibagikan sejumlah lembar kertas tentang informasi kegiatan dan form registrasi yang harus di isi.

Ia melengkapi keterangannya. 20 anak dari 78 anak panti yang mendaftar di Vaksinasi Kanisius terhadang masalah angka angka NIK. Karena situasi mereka yang mengalami penelantaran sejak kecil, sehingga sering kali pencatatan tidak terurus. Ditambah modal kesehatan yang minim akibat penelantaran saat di temukan. Untuk itu pengurus panti dan pengasuh berupaya datang hari ini menanyakan nasib anak anak ini. Karena penting menjaga imunitas dan menambah modal kesehatan mereka, vaksinasi menjadi prasyarat mereka hidup di masa pandemi dan tidak bisa di tawar tawar. Dan kami merasakan dampak betul, ketika tertular, maka seluruh warga di panti ikut tertular juga. Jadi pilihannya cuma segera di Vaksin, agar kalau tertular lebih kuat anak anak, dengan kuat imunitas tentu bisa terhindar virus ini. Untuk itu kami sangat memohon panitia vaksinasi kanisius mau menerima mereka.

Irlan Suud Ketua Alumni Kanisius Menteng 64 sebagai penyelenggara Vaksinasi Kanisius yang kedatangaan anak anak panti menyambut baik, bahkan langsung mengiyakan. Kami akan tetap mengupayakan anak anak tetap di vaksin. Baginya persyaratan administratif vaksin memang dibutuhkan. Tetapi saya yakin pemerintah pusat melalui Kementerian Kesehatan lebih mengutamakan tercapainya segera Herd Immunity. Karena jika ada satu saja di vaksin, akan membawa dampak. Namun secara pendataan kependudukan, tetap saja para pengasuh harus menyelesaikan. Kita memberanikan diri, karena ada cara manual yang bisa kita lakukan. Sambil Irlan meminta KPPPA yang hadir untuk memberi solusi.

Robert Parlindungan Sitinjak dari Asisten Deputi Pelayanan Anak Anak Yang Membutuhkan Perindungan Khusus KPPPA langsung merespon di lokasi. Jadi tidak lagi ada alasan, kalau anak yang tidak diketahui orang tuanya, ayah ibunya,tidak bisa di bikin akta lahir, itu salah, itu dulu. Sekarang sudah bisa. Harusnya Kementerian yang bertanggung jawab untuk pemenuhan hak anak, baik NIK maupun Sertifikat Vaksin. Yang kedua perlindungan khusus, baik dalam kondisi khusus maupun dalam kekerasan. Menurut data yang kami catat cukup tinggi ya, anak anak yang meninggal karena covid, kita prihatin, jadi kita ini zero tolerance lah terhadap kekerasan anak dan anak yang terpapar dengan Covid.

Mengenai akta lahir sebagai registrasi kependudukan untuk mendapatkan NIK, bahwa tidak ada alasan, jadi setiap anak harus diterbitkan akta lahir. Sehingga mudah memiliki NIK. Kami sudah mengeluarkan beberapa peraturan. Karena ini merupakan pemenuhan hak anak. Kita sudah meratifikasi Konvensi Hak Anak dengan Keputusan Presiden Nomor 36 tahun 1990 tentang Pengesahan Konvensi Hak Anak. Kemudian juga Undang Undang Perlindungan Anak Nomor 35 tahun 2014, Jadi kita perlu kerjasama dengan pemerintah dan masyarakat penyelenggara vaksin agar mereka yang tidak punya NIK tetap bisa Vaksin. Kami Pemerintah sangat mengapresiasi Yayasan Alumni Kanisius Menteng 64 yang tetap akan melakukan Vaksin kepada anak anak yang tidak memiliki NIK.

Jasra Putra KPAI yang diundang panitia Vaksinasi Kanisius juga diminta memberikan masukan soal ini. Ia menyorot soal data penularan yang melonjak di akhir bulan ini, karena ada varian delta yang tentu sangat mengkhawatirkan menyerang anak anak kita. Oleh sebab itu tentu ke depan, kita berharap sesuai Undang Undang Perlindungan Anak Pasal 44 bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah termasuk juga masyarakat, wajib menyelenggarakan kesehatan yang komperhensif pada anak anak kita. Baik dengan cara promotif, preventif, kuratif dan termasuk juga rehabilitatif.

Nah hari ini, teman teman Alumni Kanisius memberikan hak itu. Dan mudah mudahan gerakan yang mulai dari masyarakat ini bisa menggelinding di seluruh Indonesia. Karena anak anak kita jumlahnya cukup banyak, sepertiga dari jumlah penduduk yang berjumlah 84 juta. Kita berharap anak anak usia 12 sampai 17 tahun segera di vaksin. Jadi ini sangat luar biasa.

Jelang Hari Anak Nasional 23 Juli tentu kita bersyukur anak anak yang mungkin ya, dalam tanda petik “Terlupakan” anak anak dalam perlindungan khusus, baik dipanti asuhan, anak jalanan, anak dari orang tua yang tidak mampu mengasuh dan undocumented itu tetap kita berikan vaksin. Soal nanti dapat sertifikat atau tidak, biar diselesaikan panitia vaksinasi kanisius dulu. Diselesaikan dulu vaksinnya, sehingga adik adik kita ini punya modal kesehatan yang bertambah.

Tentu kita ajak semua masyarakat termasuk juga keluarga “Ayo kita dorong anak anak kita untuk vaksin” dengan 3 SIAP tadi ya. Satu SIAP ANAKnya, anaknya beri tahu bagaimana manfaatnya vaksin, harus istirahat yang cukup, kemudian makan. Sehingga tekanan psikis bisa di selesaikan. Nah yang kedua tentu SIAP PENDAMPINGNYA dokternya, nakesnya, relawan, peksos, orang tua, wali dan seterusnya, karena penguatan pendamping, ramah anak, dan menginformasikan jenis vaksin kepada anak, manfaatnya dan penguatan menjadi kunci pendampingan, termasuk penjelasan kepada orang tua kenapa penting vaksinasi anak.

Untuk mendampingi anak anak panti, ada soal khusus yang harus di potret dari hulu sampai hilir.  Karena adik adik kita yang dipanti tidak seperti anak yang punya anggota keluarga lengkap. Seperti tadi pengalaman kita mendampingi mengisi form registrasi Vaksin, ada soal NIKnya tidak ada, mereka tidak pernah di kenalkan golongan darahnya, kemudian soal menjelaskan riwayat kesehatan.

Terakhir Jasra menyorot soal kolaborasi luar biasa. Karena tidak melihat sekat agama lagi, kita sudah bicara kemanusiaan. Ada Kanisius, ada Dompet Dhuafa, ada Muhammadiyah, ada ELSAFAN, ada Lembaga Jaringan Kristen, Forum Panti Nasional, KPPPA, dan tentu KPAI dan seterusnya, kita tidak melihat itu lagi. Kita disini sudah menyamakan persepsi dan lebih melihat kepentingan terbaik untuk anak anak kita. Kedepan ini harus maju dan cakupan areanya diperluas. Sehingga menjelang Hari Anak kita berharap, bahwa vaksin adalah harapan hidup, salah satu harapan hidup anak anak kita untuk bertahan di era pandemi.

Di kontak terpisah Junito Drias, Wahana Visi Indonesia menyampaikan memang NIK menjadi persoalan terkait akuntabilitas penyelenggaraan Vaksin karena ini terkait anggaran negara. Drias menyarankan penyelenggara vaksin bersurat kepada Kemen PPPA agar meminta Kemendagri dan Kemenkes memberi solusi atas vaksinasi anak tanpa NIK. Kemendagri, dalam hal ini Disdukcapil, membuka pos bantuan di tempat penyelenggaraan vaksinasi untuk layanan NIK. Kemenkes bisa memperlunak syarat vaksinasi bagi anak, yaitu bisa menggunakan surat keterangan bagi anak tanpa NIK. Seperti surat dari RT/RW, surat dari sekolah, surat dari panti atau lembaga atau organisasi, atau registrasi melalui nomor handphone. Atau bukti yang dimiliki anak yang lain seperti ijazah.

Vaksinator dan para dokter di lokasi penyelenggaraan vaksin tidak perlu dipusingkan dengan persoalan syarat administrasi vaksinasi. Mereka tidak mungkin dibebankan, karena tugasnya lebih penting ke pemulihan masa pandemi dengan siap terus melalukan Vaksinasi ke seluruh masyarakat Indonesia yang ratusan juta, tentu mereka harus berkonsentrasi penuh. Sedangkan kita tahu tenaga kesehatan saat ini banyak yang meninggal dan tertular akibat tanggung jawab dan kewajiban profesi mereka yang harus melayani masyarakat.

Dalam wawancara panitia kepada anak anak yang telah di vaksin, ada Akhidatul Faiz (15 th) dari Panti Muhammadiyah Depok menyampaikan pengalamannya dari panti hingga ke lokasi. “Pertama di beri tahu grup WA, dan baru bangun tidur, tiba tiba buka grup wa, ada pemberitahuan buat vaksin. Saya sempat kaget, karena kan katanya banyak yang bilang vaksin itu apa apa gitu. Pertama tama takut, Ya udah saya coba memberanikan diri. Pas akan di vaksin, kira saya bakalan sakit, seperti vaksin disekolah, ternyata tidak. Sekarang rasanya ngantuk dan tangan pegel.”

Ketika ditanya pesan Hari Anak Nasional, Faiz menyampaikan karena berhubung hari anak, semoga anak anak Indonesia selalu tetap sehat dan semangat menuntut ilmu, apapun rintangannya. Dan semoga dengan program vaksin ini, anak diluar sana bisa terbebas dari virus yang beredar saat ini, dan virus yang tersebar di mana mana cepat reda atau hilang.

Begitupun Syifa Syafiqoh Ulayya Sigit (14 tahun) dari Panti Muhammadiyah Tanah Abang berbagi pengalamannya sesudah vaksin, “selama divakin saya merasakan agak sakit dan pegal, tetapi rasa sakitnya seperti biasa saja. Saya berharap setelah menceritakan di vaksin tadi, teman teman yang lain tidak ragu lagi untuk vaksin.”

Keduanya ketika ditanya, apa aktifitas yang paling dirindukan ketika pandemi, jawabannya sama yaitu sekolah. Sebagaimana kita tahu sebelumnya, Presiden saat dialog dengan anak anak sekolah yang di vaksin, anak anak juga menyampaikan harapan yang sama. Dan Presiden mensyaratkan sekolah akan aktif bila semua telah di vaksin termasuk guru dan yang bekerja di sekolah. Hal ini tentunya menjadi gambaran para pemegang kebijakan dan penggerak perlindungan anak, bahwa anak anak di seluruh Indonesia punya harapan yang sama, segera sekolah. Sehingga butuh komitmen kuat semua pihak melakukan percepatan Vaksin untuk seluruh anak Indonesia, tanpa membedakan latar belakangnya, agar tidak ada yang terlewat dan harapan anak anak Indonesia segera terwujud.

 

Check Also

4 Tahun Praktekkan Layanan Disabilitas, PELKESI Terbitkan Buku Panduan Menuju Rumah Sakit Inklusi

Pengalaman teman teman penyandang disabilitas datang ke rumah sakit malah stress, karena mendapatkan sikap dan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: