Home / KBAI Reportase / Pesan Penting Aktifis Disabilitas Kalau Indonesia Mau Capai Herd Immunity 2022
Aktifis Disabilitas Netra dari ELSAFAN Ritson Manyonyo mendampingi anak anak mengisi registrasi form pendaftaran Vaksinasi Anak di Balai Sidang Jakarta Convention Center. Disini telah di vaksin 5078 anak.

Pesan Penting Aktifis Disabilitas Kalau Indonesia Mau Capai Herd Immunity 2022

Minggu 18 Juli 2021 sejumlah organisasi anak dan ormas menyelenggarakan Vaksinasi Anak dalam rangka menuju Hari Anak Nasional 2021 dengan difasilitas Vaksin anak oleh Vaksinasi Kanisius dan mobilitas oleh Dompet Dhuafa.

Irland Suud menyampaikan sudah 5000 anak yang di vaksin, ditambah hari ini kehadiran 78 anak yang membutuhkan perlindungan khusus di Balai Sidang Jakarta Convention Center.  20 diantaranya tidak memiliki NIK.

Ia menegaskan “betul untuk vaksinasi ini diburuhkan persyaratan persyaratan yang sifatnya administrative. Tetapi yang bagian terpenting vaksin ini adalah masalah kesehatan. Dan saya yakin pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Kesehatan lebih mengutamakan kesehatan, terciptanya herd immunity nasional yang ingin cepat di capai. Kami memberanikan diri juga, karena ada cara manual yang bisa kita lakukan, dimana adik adik kita ini untuk kesehatannya harus didahulukan dengan di vaksin. Supaya waktu mereka bersosialisasi atau beradaptasi dengan lingkungan dan semacamnya lebih safety, itu target kami pertama. Bahwa sertifikasi vaksin mereka akan terbit atau bagaimana kami serahkan kepada Pemerintah agar mereka memiliki pencatatan kewarganegaraan.

Robert Parlindungan Sitinjak dari Asisten Deputi Pelayanan Anak Yang Membutuhkan Perlindungan Khusus KPPPA langsung merespon di lokasi. Jadi tidak lagi ada alasan, kalau anak yang tidak diketahui orang tuanya, ayah ibunya, tidak bisa di bikin akta lahir, itu salah, itu dulu. Menurut data yang kami catat cukup tinggi ya, anak anak yang meninggal karena covid, kita prihatin, jadi kita ini zero tolerance lah terhadap kekerasan anak dan anak yang terpapar dengan Covid.

Jasra Putra KPAI menyampaikan Jelang Hari Anak Nasional 23 Juli tentu kita bersyukur anak anak yang mungkin ya, dalam tanda petik “Terlupakan” anak anak dalam perlindungan khusus, baik dipanti asuhan, anak jalanan, anak dari orang tua yang tidak mampu mengasuh karena berabagai sebab dan undocumented  agar tetap mendapatkan hak nya untuk vaksin, karena mereka di luar skema vaksinasi sekolah. Soal nanti dapat sertifikat atau tidak, biar Vaksinasinya di selesaikan terlebih dahulu, karena kita berkejaran dengan penularan.

Ritson Manyonyo Disabilitas Netra yang juga aktifis Disabilitas dari ELSAFAN diundang khusus dalam konpers, dengan diminta mengenalkan situasi anak disabilitas dalam pencapaian Vaksin anak remaja yang mencapai 26,7 juta ini.

Ia menyampaikan generasi disabilitas ini kurang lebih 25 sampai 30 juta jumlahnya baik disabilitas dewasa maupun anak berkebutuhan khusus. Saya baru pulang dari Sulawesi Tenggara satu minggu yang lalu, belum ada gerakan vaksinasi. Begitu juga di Sulawesi Tengah khusus untuk anak berkebutuhan khusus.

Oleh karena itu sebelum gelombang Jawa dan Bali ini pindah ke daerah daerah, maka harapan kami dengan jaringan daripada Kementerian, jaringan daripada alumni Kanisius, Dompet Dhuafa dan seterusnya bisa bersegera, sambil menangani yang di Jawa dan Bali. Kita bisa menjangkau yang lainnya.

Karena panti itu tempat yang sangat rentan, saya ulangi, panti panti itu adalah kelompok yang sangat rentan. Kenapa? Karena para pengasuh juga juru masak, yang pulang pergi belanja. Kita tidak tahu mereka pulang dari pasar, membawa virus, kena anak anak, kena satu, kena semua.

Jadi mari kita sehatkan bangsa kita, dengan memulai memberi Vaksin kepada generasi anak anak Indonesia. Agar kalau anak Indonesia sehat, bangsa ini kedepan akan maju, dan makin lebih kuat, untuk terus menjalankan kehidupannya masing masing, tutupnya.

Sejumlah organisasi anak, ormas dan lembaga pendidikan berkomitmen di Hari Anak Nasional memberi kado terindah anak anak yang tidak memiliki NIK dengan Vaksin di Vaksinasi Kanisius. Adapun organisasi yang terlibat adalah Yayasan Alumni Kanisius Menteng 64 (AM64), Eka Tjipta Foundation, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Majelis Pelayanan Sosial PP Muhammadiyah (MPS PPM), Forum Nasional Panti LKSA PSAA, DMC Dompet Dhuafa, , Kantor Berita Anak Indonesia (KBAI), Jaringan Kerja Lembaga Pelayanan Kristen (JKLPK) dan ELSAFAN.

 

 

Check Also

4 Tahun Praktekkan Layanan Disabilitas, PELKESI Terbitkan Buku Panduan Menuju Rumah Sakit Inklusi

Pengalaman teman teman penyandang disabilitas datang ke rumah sakit malah stress, karena mendapatkan sikap dan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: