Home / KBAI Reportase / Pembina Kegiatan Susur Sungai Diminta Menyerahkan Diri

Pembina Kegiatan Susur Sungai Diminta Menyerahkan Diri

Martanti Endah Lestari atau Tata sejak 2 hari memantau langsung evakuasi dan penanganan korban susur sungai. Sejak 7 korban ditemukan pada malam hari, menyusul pagi sampai siang ini 3 korban ditemukan kembali. Semua dalam keadaan meninggal dunia.

Tata menyayangkan ditengah kondisi merudung malang ini, beberapa pihak mengeluarkan pernyataan yang tidak perspektif korban.

Seperti menganggap para korban adalah warga Turi dan sudah biasa. Ini sangat tidak empati.

Bagi Tata kita yang harus menyesuaikan alam, bukan alam menyesuaikan kita. Jadi pernyataan tersebut kontraproduktif. Senada dengan Tata, Sultan Hamengkubuwono sebagai Gubernur Yogyakarta juga menghimbau hal yang sama, agar sekolah di semua tingkatan, tidak melakukan kegiatan diluar sekolah pada cuaca hujan.

Semua pihak menurut UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional atau Sisdiknas punya kewajiban di pasal 6, bahwa semua warga negara bertanggung jawab terhadap keberlangsungan penyelenggaraan pendidikan.

Jadi tidak ada alasan lepas tanggung jawab Kepala Sekolah dan Pembina. Mereka adalah dua orang yang paling bisa meruntut peristiwa.

Tata menyatakan semua orang punya tanggung jawab. Ayuk tunjukkan, termasuk Kepala Sekolah dan Pembina Pramuka SMPN 1 Turi. Jangan lari dari tanggung jawab. Tata juga sudah mengingatkan Disdikpora dan Kwarda setempat agar segera melakukan koordinasi yang diperlukan.

Tata menjelaskan sejak semalam sudah ditemukan 7 korban, dan sekarang (22/2) kembali ditemukan korban siswi meninggal dunia, jam 10 ditemukan dua korban dan jam 13 ditemukan satu korban lagi. Sehingga sudah ditemukan semua dari 249 siswa yang mengikuti kegiatan Pramuka susur sungai ini.

Tata mengirimkan 10 nama nama korban sebagai berikut:

Yang mengikuti kegiatan 249 siswa, dengan rincian Kelas 7 : 124 siswa dan Kelas 8 : 125 siswa.

Kondisi selamat 216 siswa, kondisi luka luka 23 siswa, meninggal dunia 10.

Berikut nama nama korban meninggal dunia:

1. Yasinta Bunga (7b/Perempuan/berikut 13th) da. Dadapan Rt.5 Rw.27, Donokerto, Turi. Ciri² : dipipi ada tahi lalat, tinggi ±150cm, 40kg, kulit putih, rambut agak keriting sepinggang;

2. Zahra Imelda (7D/Perempuan/2th) da. Kenteng, Wonokerto, Turi. Ciri² : hitam manis, tinggi 140 cm, rambut sebahu bergelombang, agak kurus);

3. Nadine Fadilah (7D/Perempuan/12th) da. Kenaruhan Rt.5 Rw.18 Donokerto, Turi. Ciri² : kecil, kurus, kuning langsat, tinggi 140cm.

4. Sovie Aulia (8C/Perempuan/15th/Klinik SWA) da. Sumberejo Rt.22 Rw.6, Kaliurang, Srumbung, Magelang. Sudah dibawa pulang keluarga ke Magelang;

5. Arisma Rahmawati (7D/Perempuan/13th/Klinik SWA-Pusk. Turi) da. Ngentak Rt.2 Rw.23, Tepan, Bangunkerto, Turi. Sudah dibawa pulang keluarga;

6. Nur Azizah (8A/Perempuan/15th/Klinik SWA) da. Kembangarum Rt.2 Rw.30 Donokerto, Turi. Sudah dimakamkan;

7. Lathifa Zulfaa (8B/Perempuan/15th/Pusk. Turi) da. Kembangarum Rt.4 Rw.33 Donokerto, Turi. Teridentifikasi DVI pkl.00.00 WIB;

8. Khoirunnisa Nurcahyani Sukmaningdyah (7C/Perempuan/14th/Pusk. Turi) da. Karanggawang Rt.5 Rw.25 Girikerto, Turi. Diambil keluarga pkl. 21.00 WIB;

9. Evieta Putri Larasati (7A/Perempuan/13th/Pusk. Turi) da. Soprayan Rt.4 Rw.19 Girikerto, Turi. Sudah diambil keluarga pkl.21.36 WIB;

10. Faneza Dida (7A/Perempuan/13th) da. Glagahombo Rt.3 Rw.19 Girikerto,Turi.

Korban Luka :
Sebanyak 23 siswa. 21 siswa Rawat Jalan/ Pulang dan 2 siswa menjalani Rawat Inap di Puskesmas Turi : an. Teta Versya dan Hapsari Teta.

TRC BPBD DIY
CALL CENTER
📞 085103630700
WA 085103630700
Twitter @TRCBPBDDIY

Tata melanjutkan keterangannya, kita bisa membayangkan anak anak sekisaran usia 12-13 tahun (perempuan), harus menyusur sungai yang arusnya deras dengan pakaian sekolah, rok panjang lengan panjang, bersepatu, tanpa alat pengaman, tanpa pengawasan?

Tentunya ada resiko yang tinggi, dan bisa terjadi pada semua anak, namun anak perempuan tentu lebih beresiko.

Ini artinya bahwa Child Protection Policy (CPP) atau kebijakan perlindungan anak serta mitigasi resiko, belum dipunyai dan dijalankan pada lembaga atau siapapun yang berkegiatan dengan anak anak.

Belajar dari kasus SMPN 1 Turi Sleman, ini memang kelalaian fatal dan harus dipertanggungjawabkan, sekaligus memperingatkan kita semua bahwa masih banyak pihak yang harus dipahamkan tentang pentingnya kebijakan perlindungan anak diterapkan di sekolah pun juga pihak-pihak lainnya yang bersinggungan dengan anak.

Memang ada pihak yang bersalah dan mesti bertanggungjawab atas lalainya tapi mereka pun pasti sangat syok atas kejadian ini, ada saatnya semua diproses dan dipertanggungjawabkan tapi jangan menghujat dan memvonis berlebihan tanpa solusi.

Segera bergerak untuk pemulihan bagi semua pihak yang membutuhkan, utamanya untuk anak-anak dan keluarganya.

Mohon ada perhatian dan dukungan selanjutnya untuk pembenahan pendidikan karakter dan lingkungan, khususnya di kepanduan.

Check Also

Kemendikbud Ingatkan Persoalan Kesehatan Mental Di Era New Normal

Diskusi (23/6) yang diselenggarakan Pewarna atau Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia menghadirkan 4 narasumber yaitu Hilmar …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: