Home / KBAI Reportase / Meneguhkan Hari Kelahiran Pancasila dengan Gerakan Kerelawanan Bersama Buruh Perempuan dan Anak

Meneguhkan Hari Kelahiran Pancasila dengan Gerakan Kerelawanan Bersama Buruh Perempuan dan Anak

Disampaikan Ilma Sovri Yanti, Koordinator Seknas Penanganan Dampak Covid 19 untuk Perempuan Buruh dan Anak

Hidup di daerah kawasan industri, para buruh terbiasa memperjuangkan hak mereka, turun ke jalan jalan di Mayday atau menuntut kenaikan UMR.

Namun kali ini buruh perempuan bersama anak mereka berkumpul agar tidak kehilangan segala galanya. Sudah hilang pekerjaan maka tidak mungkin juga kehilangan keluarga.

Buruh perempuan sejatinya adalah ibu rumah tangga, yang menjadi ketergantungan keluarganya mengurus domestik sambil ikut membantu menopang perekonomian keluarga.

Tapi apa yang terjadi di era covid, peran yang biasa dibagi dengan suaminya, harus diemban sepenuhnya buruh perempuan. Itulah yang terjadi pada buruh perempuan yang hidup dikawasan industri, pulang tidak bisa, persediaan sudah habis dan harus tetap bertahan hidup dengan segala kondisi, bahkan yang datang ke Seknas menceritakan kebingungan dan bagaimana cara membangun harapan di era Covid

Kita bisa membayangkan tugas buruh perempuan di era covid, di era normal saja semua urusan domestik di urus buruh perempuan, kini mereka juga mengurus suami yang sudah tidak bekerja, anak mereka, kebutuhan hidup anak anaknya, bahkan menjadi guru semua mata pelajaran, menitipkan anak mereka ketika tetap harus bekerja, belum lagi resiko tertular baik buruh perempuan maupun anak mereka. Mereka perantauan, aturan tidak boleh pulang kampung, menyebabkan mereka terlantar disini.

Begitupun buruh perempuan yang sudah lama putus dengan komunikasi keluarga di kampung, maka mereka harus bertahan dalam kondisi apapun, karena itu memang itu kondisi nyata yang mereka hadapi.
Bantuan yang ada seperti sembako adalah bantuan penting disaat Covid 19. Namun kasusnya para buruh yang hidup di perantauan tidak masuk skema bantuan. Ditambah lagi kondisi anak anak mereka, dan hak hak nya.

Misalnya, anak tidak dapat dipaksakan memakai masker, ini menjadi beban buruh perempuan. Tapi pernahkah kita berfikir masker yang ramah untuk anak. Seperti membuat face shield bergaya topeng mainan yang mereka idolakan, mungkin itu lebih ramah dan setiap saat bisa dibersihkan, dibandingkan kain, atau masker umumnya.

Hal hal seperti ini belum terfikirkan, dan ini menjadi beban buruh perempuan berlapis lapis. Istilah mereka pecah kepala, bingung, lapar, itu riil suara suara dilapangan yang saya dengar.

Tapi di era pandemic Covid ini, ternyata ada permasalahan yang lebih penting, yaitu mempertahankan anak anak mereka, sambil orang tuanya tetap berusaha mencari kerja, tetap bisa membayar susu, makanan anak (yang memang tidak bisa disamakan orang dewasa), menitipkan anak mereka, bayar tempat tinggal mereka (kost, kontrakan).

Mereka yang langsung menghadapi keluhan anak anak mereka, karena figur terdekat anak adalah seorang buruh perempuan. Inilah yang sedang kita coba cari pola dukungan sementara, sampai mereka benar benar bisa aman.

Untuk itulah di Hari Lahir Pancasila ini kita mendirikan Seknas Penananganan Dampak Covid 19 Buruh Perempuan dan Anak, sekali lagi karena persoalan persoalan ini, buruh perempuan tidak bisa di tinggalkan. Harapan mereka harus kita bangun, dengan membuka akses, seperti yang dilakukan hari ini dengan Keluarga Budhayana Indonesia.

Berdaya dari mereka untuk mereka dan keluarganya. Setelah itu mereka juga bergerak untuk buruh perempuan lainnya.

Untuk itu KBAI, BPJS Wacth, ELKAPE, Federasi Serikat Buruh Indonesia dan GAPS (Gardu Solidaritas Perlindungan Sosial) yang biasa mendampingi mereka, ditengah Covid ini bersatu menjadi awal inisiator gerakan Seknas.

Upaya ini terjawab dengan bertemu Keluarga Budhayana Indonesia yang siap bekerjasama membangun pemberdayaan buruh perempuan dan anak di tengah Pandemi Covid 19. Sehingga kita bisa memulai program ini.

Di tengah daerah kawasan Industri kita memperingati kembali Hari Lahirnya Pancasila, bahwa pedoman landasan hidup Pancasila benar benar membawa situasi bangsa Indonesia yang secara utuh dapat melihat dirinya, sebagai entitas sebuah bangsa, termasuk buruh perempuan dan anak mereka.

Ditengah nirharapan, kehilangan harapan, kita bangun bersama harapan itu. Dengan tidak mengecilkan peran siapapun, berbagi, saling menguatkan, menolong, dan ‘mendengar’ kedepan apa apa yang bisa dilakukan bersama, demi Pancasila tetap tegak berdiri kokoh diumur 74 kemerdekaan dan jelang 75 tahun Agustus nanti (dengan situasi yang berbeda, yaitu pandemic covid 19).

Di era pandemic Covid 19 penting sekali kita akan amalkan nilai nilai Pancasila itu, dengan bergotong royong, berbagi peran saling menguatkan, menghargai apa yang mereka bisa dan saling bertukar untuk bagaimana bisa bersama sama bertahan, tanpa mengecilkan peran siapapun.

Gerakan dari akar rumput sekarang sangat penting, karena ledakan ledakan masalah buruh seperti ini. Yang belum pernah terfikirkan kita semua dampaknya, pasca keberlanjutan dampak covid 19 yang sudah berjalan hampir 3 bulan.

Check Also

Pendekar Anak UNICEF Jelaskan Situasi Anak Di Era Pandemi

Dari data UNICEF menjelaskan adanya pandemic menyababkan pemiskinan cepat karena kekurangan nutrisi, pemiskinan karena kerentanan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: