Home / KBAI Reportase / Konflik Transportasi Ajarkan Keburukan Moral Anak Bangsa

Konflik Transportasi Ajarkan Keburukan Moral Anak Bangsa

car kid scare

Biasa naik taksi? Tentu nyaman, tidak kepanasan dan kehujanan. Namun untuk penumpang taksi yang sudah biasa menggunakan alat transportasi ini, tentu sedikit memilih. Biar mahal asal nyaman.

Namun sayangnya hari ini terjadi pemandangan yang menyeramkan dengan transportasi kita. Kemanusiaan supir yang biasa dilihat penuh keramahan, siang ini jadi beringas.

Selama ini warga Jakarta menyadari tak mudah mencari transportasi yang aman dan nyaman. Apalagi yang pernah mengalami kejahatan di alat transportasi penumpang. Rasa trauma terus takkan hilang, apalagi kalau kisahnya terulang.

Namun entah apa yang terjadi hari ini, keberingasan di beberapa sudut pusat jalan Ibukota seakan menghilangkan citra perusahaan.

Seharusnya perusahaan itu tidak mengijinkan para supirnya merusak citra si perusahaan. Perusahaan itu sudah membawa terbang banyak orang dengan aman dan nyaman. Namanya pun sudah tidak lagi dibaca penumpang sejak muncul banyak anak perusahaannya, bagi kita yang penting ada gambar perusahaannya.

Namun sayangnya konsumen yang loyal telah dikecewakan, dengan pemandangan kekerasan supir Perusahaan. Apa yang terfikir oleh pemilik Perusahaan sehingga mengerahkan sebanyak itu armadanya dan dengan beringas merusak citra diri sendiri. Kalau alasannya hanya karena penghasilan perusahaan yang berkurang atau supir yang merasa tidak mendapatkan setoran, rasa rasanya tidak perlu menghancurkan logo perusahaan itu.

Tentu bagi supir bila ‘batangan’nya atau mobil mereka rusak maka akan libur mencari rejeki, tentu hal yang tak mudah karena mulut istri dan anak ‘mengangga’ dirumah . Andai saja mereka dibayar atas aksinya, tentunya juga tidak menyenangkan bagi keluarganya menerima uang dari kondisi tontonan yang mengerikan.

Tak ada yang bagus juga, bila kemudian kerusakannya dimaafkan perusahaan. Artinya kita sedang mengajarkan dan merusak sistem yang telah dibangun perusahaan, dibalik itu juga kita sedang mengajarkan ke anak bangsa bahwa merusak itu tidak apa-apa. Apalagi kalau berkuasa boleh semaunya.

Kalau memang ingin membantu supir, harusnya sedari awal diprogramkan, bukan dengan mengajarkan merusak barang sendiri. Andaikan kita merasakan naik Perusahaan besok gratis, serasa menghapus luka oleh hujan sehari, tentu perih.

Mari berfikir rasional, apa susahnya memberi intensif untuk anak bangsa sendiri, lalu memperbaharui sistem dan regulasi peraturan kendaraan penumpang. Namun yang kita tontonkan bahwa kita sedang mengajarkan kepada anak anak kita cara menyelesaikan masalah yaitu dengan cara mengerahkan massa, merusak, mengganggu ketertiban umum, membahayakan orang banyak, membakar dan anarkis. Dan kalau berkuasa boleh semaunya.

Kita sering melarang jangan tawuran jangan berantem dalam menyelesaikan masalah kepada anak anak. Namun tontonan kita mengajarkan cara menyelesaikan masalah dan berbeda pendapat tidak perlu dialogis, yang penting anarkis.

Ada yang lebih mahal yang sedang dikorbankan bangsa ini, dibanding sekedar aplikasi yang sedang kita bicarakan. Generasi yang rusak memahami kebesaran bangsa ini setelah 70 tahun merdeka dengan kita rusak dalam sehari. Hentikan dan sadari jangan perkeruh lagi, kita sedang ditonton anak cucu bangsa dalam menyelesaikan masalah.

 

Check Also

Penolakan SJ: Potret Penanganan Korban Pedofilia, Masih Jauh Dari Harapan

Tampilnya SJ di publik, membawa penolakan sejumlah masyarakat, terutama masyarakat mengingatkan update kondisi penanganan para …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: