Home / KBAI Reportase / HPN: Aku, Akun MediaKu dan PersKu

HPN: Aku, Akun MediaKu dan PersKu

Menjadi paling pertama update dengan status adalah sesuatu yang sangat dikejar anak anak saat ini. Kegelisahan eksistensi itu menumpuk setiap hari, agar bisa dikatakan selalu come back, reel, paling terdepan.

Namun karena kebutuhan ini, seringkali anak mengalami kesalahan informasi, atau disinformasi, karena tidak adanya kekuatan menyaring informasi dari sumber sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Jari mereka lebih cepat dari fikirannya, katanya begitu.

Namun dengan belakangan banyak para remaja bergerak bersama teman teman sebaya nya menyaring informasi sebelum naik update status, menjadi gerakan literasi yang positif dan menjauhkan anak anak dalam merasa bersalah akibat status media sosial mereka.

Namun seberapa kuat literasi itu bisa anak anak lakukan, ini yang menjadi permasalahan, karena perkembangan cara memberitakan yang terus berkembang membutuhkan peralatan yang terbagus dalam menyaring informasi yang benar.

Dalam survery Komisi Perlindungan Anak Indonesia di masa pandemi bahwa penetrasi penggunaan internet semakin meningkat pasca perubahan model belajar online di masa pandemi, dengan rata rata anak menggunakan gadget hpnya diatas 5 jam.

Situasi ini menyebabkan industri aplikasi dan platform berlomba lomba mendekati anak, dengan berbagai cara. Untuk itulah apa saja yang paling disukai anak hari ini, mereka tembus, dalam menyebar informasi. Mulai dari game, film, tontonan, hobby atau minat, publik figur digunakan sebagai cara mendekati anak.

Tentu saja tidak semua gadget, hp, tablet, dan semua layar kaca yang berada di hadapan anak, bisa sama teknologinya, justru teknologi anak anak yang berada di hp nya tidak bisa berassing dengan kekutan teknologi industri viral.

Disinilah dibutuhkan industri pers dan para pekerja pers dalam mengimbangi media sosial yang mudah menyebarkan informasi. Karena dalam survey KPAI orang tua lebih dominan bertanya tentang dunia sekolah anak, tetapi yang mengawasi gadget mereka boleh dikatakan tidak ada.

Disinilah butuh kerja kerja industri pers, stasiun stasiun tv besar, radio, surat kabar yang telah memiliki kekuatan pengimbang melawan industri viral. Dalam rangka menghadirkan informasi pada anak yang bebas hoax, bukan prank, dan bukan dijalankan dengan teknologi psywar, yang menyerang pribadi anak anak.

Selamat Hari Pers Nasional. Kini aku semakin tahu, bahwa media bisa dimiliki siapa saja, tetapi Pers tidak, karena Pers punya kode etik dalam memberitakan, tidak menjebakku dalam perilaku salah. Dan menjaga eksistensiku (anak anak) agar benar, bebas post truth, bebas bullying dan bebas persekusi. Mari membaca, menonton berita dari Pers, karena lebih bisa dipertanggungjawabkan.

Hari ini 9 Februari adalah Hari Pers Nasional, yang puncak perayaannya di rayakan di Sumatera Utara. Kenapa di sini perayaannya? Karena ini tanah kelahiran Parada Harahap, seorang jurnalis yang melawan kolonialisme penjajahan, disaat kebanyakan orang saat itu sulit melawan mereka.

Parada dengan pensil dan bulpennya atau kuli tinta mewartakan kebrobrokan kolonialisme. Tulisan yang membawa bagi siapa saja yang membacanya untuk sadar, dan sadar KITA INI DI JAJAH. Mari melawan. Tulisan yang membawa dirinya dikenang sepanjang jaman. Siapa adik adik yang ingin update statusnya di kenang sepanjang jaman. Ayuk baca sejarah Parada. https://tirto.id/parada-harahap-sejarah-hidup-si-raja-media-pembela-para-kuli-dyEt

 

 

 

D

Check Also

Catur Sigit: Mudik Inklusi Disabilitas Tempuh Arus Balik

Mudik Inklusi Ramah Anak dan Disabilitas (MIRAD), yang sebelumnya pada arus mudik memberangkatkan 278 disabilitas, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: