Home / KBAI Reportase / Hari Anak Internasional: Orang Tua Butuh Perhatian Dunia

Hari Anak Internasional: Orang Tua Butuh Perhatian Dunia

Rilis Jasra Putra Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia perlu menjadi perhatian dunia, guna persiapan orang tua dalam menghadapi anak di tahun kedua pandemi korona.

Mari memejamkan mata sejenak para orang tua, ketika sedang mengerjakan bisnis dan anak anak merasa mengalami tugas yang berat dalam dunia belajarnya di masa pandemi.  Akhirnya orang tua menghentikan proses bisnis. Semua itu harus di hentikan dan dilakukan demi anak, namun disanalah tersembunyi kekerasan tanpa kita sadar. Setelah tekanan yang harus diterima orang tua dari rumah. 24 jam menghadapi anak tanpa berbagi peran bukan hal yang mudah. Dan akhirnya bisnis tidak benar benar terselesaikan. Dan dimulaikan kekerasan tersembunyi itu muncul. Itulah potret keluarga di dunia dalam menggantikan peran pendidikan dan lingkungan melawan pandemic Covid 19

Pandemi menjadi dampak global yang mengikutkan pemberatan segala hal dari rumah. Konsekuensinya menuntut orang tua mau tidak mau berperan lebih dalam menjalankan pemenuhan kebutuhan hak hak anak di segala bidang. Namun pada kenyataannya orang tua di dunia gagap menerima tugas baru ini.

Peristiwa didunia tentang kegagalan orang tua menggambarkan situasinya. Setahun mengalami pandemi justru potret kekerasan banyak terjadi dari rumah bahkan peristiwa upaya anak bunuh diri tidak dapat di cegah. Ancaman keterpisahan dan ditinggalkan menjadi sikap apatis menghadapi tekanan di keluarga. Tentu fenomena ini perlu di jawab kita semua dalam menghadapi pandemi di tahun kedua.

Media di Indonesia sepanjang pandemi menyorot angka kekerasan yang tinggi. Hal ini disebabkan peran domestik yang bertambah, tanpa ruang berbagi. Diantaranya kasus PJJ yang membawa 3 anak bunuh diri, sampai sekarang belum terjawab. Bulan disabilitas Desember yang akan dirayakan 3 Desember sebagai Hari Disabilitas Internasional justru kita dipertontonkan anak tuna wicara yang dibakar orang tua.

Peran 24 jam perlindungan anak yang selama ini di andalkan dengan berbagi 8 jam anak berada di layanan pendidikan, 8 jam anak berada di lingkungan dan 8 jam anak dirumah, sudah tidak bisa diandalkan para orang tua. Artinya realita yang sedang dihadapi para orang tua perlu keberpihakan dunia.

Kita menuliskan ini bukan untuk menodong salah satu pihak, untuk bertanggung jawab. Tetapi fenomena tersebut harus dijawab bersama dalam rangka mendukung orang tua lebih siap mengadapi pandemi dalam pemenuhan kebutuhan anak dari rumah. Bahkan peran berlebih sampai dikerjakan orang tua dari kantornyabahkan dalam perjalanan bekerja. Saya pernah di sampaikan seorang profesi Ojek Online yang menyelesaikan tugas sekolah anaknya sambil menunggu panggilan daring. Perlu kerjasama di tingkat global dalam menekan kekerasan, agar dunia anak tidak direbut dunia kejahatan. Dengan saling belajar praktek baik dan pengalaman dunia menghadapi ini.

Kalau kita mensearching berbagai peristiwa kekerasan anak. Bahkan di Negara maju sekalipun. Ini menjadi dampak global yang menyakitkan untuk keluarga di dunia. Warning Alert System dunia dalam perlindungan anak harus mulai dibunyikan sebagai tanda dunia siap membangun support system dari rumah untuk para orang tua dalam menghadapi krisis pandemi di tahun kedua. Meski berbagai stimulant sudah di sampaikan melalui rumah, namun untuk isu anak perlu upaya lebih, apalagi kalau bicara anak anak berkebutuhan khusus dan disabilitas.

Untuk itu menjadi penting beban penuh 24 jam orang tua mulai dipetakan, dibagi. Dengan penyediaan kebijakan perlindungan anak dari rumah. Apa yang bisa di dorong bersama oleh berbagai Negara di dunia, dengan membangun akses sistem sumber dari sumber terdekat, yaitu rumah. Seperti menambah struktur perlindungan anak dalam rangka membangun dukungan para orang tua dari rumah. Agar bisa menyelamatkan keluarga yang sedang belajar peran barunya ini.

Bagaimana support sistem dapat benar benar di rasakan orang tua yang telah bertugas setahun melawan pandemi? Tugas para organisasi dunia yang fokus di perlindungan perlu di dukung agar dapat bekerja. Merekalah yang bisa memasifkan dukungan sistem ini berjalan untuk orang tua. Bahwa orang tua jaman sekarang harus siap berperan lebih karena tidak bisa dibagi dengan bidang hak lainnya. Sepenuhnya krisis perlindungan anak dan krisis dunia di masa pandemic bisa dilewati jika orang tua mampu menjalankan pemenuhan hak hak anak dari rumah.

 

Check Also

Panti Asuhan Bayi Sehat Muhammadiyah Sambut Baik Gerakan Ekonomi Inklusif Untuk Penyandang Disabilitas

Muhammadiyah melalui Majelis Pelayanan Sosial baru saja meluncurkan program Gerakan Ekonomi Inklusif untuk penyandang disabilitas …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: