Home / KBAI Reportase / HAN: Gerakan Stop Pemakaian Gawai Digemakan
FB_IMG_1532326994984.jpg

HAN: Gerakan Stop Pemakaian Gawai Digemakan

Mendengar anak anak menyanyikan lagu cublak cublak suweng dan jamuran membawa nostalgia para orang tua yang hadir membawa anaknya pada Dolanan bersama Nasyiatul Aisyiyah pada perayaan Hari Anak Nasional di Halaman Masjid Gede Kauman pagi itu (22/7/2018)

Headline Koran Kompas cetak hari ini mengangkat satu halaman penuh tentang Kecanduan Gawai Ancam Anak Anak. Begitupun sebelumnya, jelang Hari Anak Nasional berbagai lembaga menyatakan pentingnya perayaan Hari Anak Nasional tahun ini dengan mengingatkan kembali pemakaian gawai yang semakin memprihatinkan.

Para ahli tumbuh kembang anak mulai mengkhawtirkan, bahkan menganjurkan orang tua mulai secara aktif mencegah dan membatasi pemakaian gawai. Dalam uraian Koran Kompas mulai dari dokter, psikiater, lembaga pencegahan narkotika dan rumah sakit menggambarkan dampak brutal yang menimpa kejiwaan anak anak.

Forum Nasional Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak dan Panti Sosial Asuhan Anak telah merilis 4 hari yang lalu kondisi tersebut. Ada hal hal yang melemahkan sistem perlindungan anak kita. dan kebijakan yang dianggap memperlemah upaya upaya perlindungan anak. Hal terberat adalah isu kontrol peredaran tembakau alias rokok, gawai dan Jaminan Kesehatan Nasional yang belum ramah anak, jelas Yanto Mulya Pibiwanto di Hotel Asrilia Bandung, pada persiapan Musyawarah Nasional I LKSA PSAA.

Begitupun Nasyiatul Aisyiyah organisasi remaja perempuan Muhammadiyah menyampaikan hal yang sama dalam ajakan Dolanan bersama Nasyiatul Aisyiyah melalui Jam Main Kita. Gerakan tersebut dipopulerkan Bapak Presiden Jokowi bersama Kak Seto di halaman Monas. Diyah Puspitarini Ketua Umum Nasyiatul Aisyiyah menyampaikan alasan perayaan Hari Anak dihimbau secara nasional diorganisasinya. Yang merupakan bentuk keprihatinan atas ketergantungan anak anak Jaman NOW pada gawai mereka.

Ada banyak catatan yang dilihatnya setelah pelaksanaan kegiatan tersebut, pertama antusias orang tua untuk mengantar anak anaknya. Kedua, ada nostalgia juga dari para orang tua melihat permainan yang sudah menghilang, bahkan beberapa ortu tertarik untuk ikut bermain. Kedua, kesadaran orang tua bahwa ketergantungan anak pada gawai yang sangat tinggi, harus dialihkan seperti melalui kegiatan Dolanan atau Jam Main Kita. Ketiga, awalnya anak anak terlihat ‘malu’ terlibat, namun setelah ikut permainan mereka lupa gawainya dan tenggelam asyik dalam permainan penuh sarat edukasi itu. Terakhir beberapa pengunjung, yang merupakan latar belakang beragam agama melengkapi kegiatan sarat makna tersebut.

Pendidikan dan dukungan antar anak sebayanya juga menjadi faktor besar anak meninggalkan gawainya. Untuk itu Nasyiatul Aisyiyah menggemakan gerakan secara nasional yang diikuti semua Nasyiatul Aisyiyah seluruh Indonesia.

About Admin

Check Also

mas TM

Kaum Millenial Jauhi Medsos Mainstream

Sadar nggak sih perilaku kita yang sering adu otot dengan reaksi sumbu pendek telah mengubah …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *