Home / Jurnalisme Warga / Guruku Idolaku, Sudah ‘Tidak Berlaku’
Gambar diambil dari www.nea.org dan google
Gambar diambil dari www.nea.org dan google

Guruku Idolaku, Sudah ‘Tidak Berlaku’

 

Gambar diambil dari www.nea.org dan google
Gambar diambil dari www.nea.org dan google

Menyambut Hari Guru 25 November 2015. Kantor Berita Anak Indonesia mengangkat tulisan khusus tentang GURU. Istilah Guru hampir ada disemua sisi kehidupan manusia, baik datang gelarnya dari masyarakat ataupun secara formal melalui jalur pendidikan. Ucapan Guru dijaman ini terdegradasi dengan dominannya angka kekerasan yang dialami peserta didik melalui kegiatan mengajar. Tentunya keprihatinan ini membuat refleksi tentang pentingnya mengembalikan aras guru kepada nilai-nilai moral yang luhur dan berbudi pekerti yang akan menjadi suri tauladan para anak didiknya. Tulisan ini diangkat dari jurnalisme warga yang mengirimkannya ke kantor KBAI. Menarik untuk terus membaca artikel ini.

Guruku Idolaku, Sudah Tidak Berlaku. Kalau anda membaca tulisan yang dicoret diatas pasti bertanya, mengapa tulisan ‘idolaku dicoret’. Guru dalam kamus bahasa Indonesia tahun 2001 halaman 288 dinyatakan sebagai orang yang bekerjanya adalah mengajar, mempunyai arti juga pendidik dan pengasuh. Namun arti ini sepertinya sudah tidak berlaku lagi.

Pada jaman dahulu, guru merupakan tempat orang bertanya. Artinya predikat orang sebagai guru disaat itu mempunyai tempat sisi mulia. Selain ada sebutan Pandita, Kyai, Ustadz, Orang Pintar, sebutan berbagai Adat dan Budaya bahkan Dukun Beranak yang saat itu menempatkannya sebagai orang yang memiliki kelebihan dibanding orang pada umumnya.

Lihat saja panggilan guru menjadi sebuah panggilan yang lembut dan memuja. Apalagi dengan membawa sepeda ontelnya, peci hitam lusuh, dan baju dinas. Di pesantren Guru biasanya lekat dengan tampilan sarung, peci dan tasbihnya. Karena kewibawaan ini Guru sering mengeluarkan kata kata yang bijak, lemah lembut dan mengandung kekuatan. Orang orang dijaman nya itu sangat tersugesti dan memiliki motivasi kuat dekat dengan Guru.

Dijaman itu rumah Guru tak pernah sepi, hampir setiap hari ramai dikunjungi, terutama anak anak yang menjadi pengikutnya dan pengelilingnya. Kalau masih ingat film Kak Seto yang menjadi guru tentu sangat tergambarkan suasana seorang guru yang dekat dengan muridnya, keluarganya, bahkan masyarakat begitu memujanya. Bahkan dalam cerita itu digambarkan seorang murid sampai jatuh cinta pada Kak Seto yang menjadi gurunya.

Begitu profil seorang Guru menjadi tauladan, panutan, pujaan karena saat itu Guru mempunyai kehormatan dan sisi moral yang dikagumi masyarakat. Sampai sekarang mungkin pengetahuan masyarakat sangat lekat dengan profil Guru seperti itu.

Setelah itu generasi sekarang muncul profil Guru yang populer seperti Bapak Anies Baswedan yang muncul dari Universitas Paramadina menciptakan program Indonesia Mengajar. Hampir seluruh pelosok negeri mungkin mengenal Bapak Anies Baswedan sebagai Guru karena programnya. Tentunya banyak profil yang melekat dengan istilah Guru seperti Ki Hajar Dewantara, KH. Hasyim Asy’ari dan Kyai Ahmad Dahlan, begitu juga di agama agama besar dan kalangan universitas menggunakan istilah Guru Besar.

Guru di saat itu boleh dikatakan tidak tersaingi, artinya anak anak hanya mendengar cerita dan ilmu yang menarik dari seorang Guru. Karena anak anak adalah raja ingin tahu segala hal, aktif dalam setiap kesempatan. Dan Guru menjadi satu satunya pusat entertainmen masyarakat dijaman itu. Sampai di TV ada cerita dongeng yang diperankan seorang Guru seperti Kak Seto dengan ‘Komo’nya. Cerita boneka Unyil yang juga di dubber’i oleh guru. Disaat itu hanya gurulah yang mampu menceritakan sesuatu hal yang baru dengan wawasan keilmuwan yang didapatnya. Sehingga rasa haus anak anak atas keingintahuan dapat terlegakan.

Sedangkan seorang ayah dijaman itu lebih tergambarkan sebagai seorang pekerja, bisa di sawah, buruh ladang, pekerja lepas, dan berjualan. Adapun ibu rumah tangga selepas menyiapkan anak anak sekolah kebanyakan melanjutkan membantu suami, menjahit, menjaga dan membersihkan rumah, kerja atau berladang. Sehingga perannya hanya mengantarkan anak sekolah dan menjemputnya, menyediakan tempat tinggal dan makan. Untuk pendidikan dan hiburan anak anak semua diserahkan kepada guru. Makanya dijaman itu segala kegiatan sekolah sangat digandrungi anak anak. Dari mulai kegiatan belajar mengajar di kelas, belajar diluar kelas, naik gunung, wisata sekolah, pramuka, mencari jejak, kemping, tamasya bahkan belajar memasak bisa dikelas jaman itu. Dulu di sekolah saya paling suka kedatangan tim layar tancap yang memutar film ‘Kuncung’ di sekolah. Artinya Guru memegang peranan sentral saat itu.

Begitu penuhnya aktifitas tumbuh kembang anak di sekolah, hampir hampir setiap guru mampu mengontrol anak didiknya dengan baik. Dan anak anak sangat takut bila ditinggalkan Gurunya. Kekuatan Guru telah menjauhkan anak anak dari pengaruh sosial yang berdampak negatif dijaman itu. Dan orang tuanya juga tidak begitu khawatir meninggalkan anak pergi ke sawah. Mau punya 1 anak atau 10 anak sama saja. karena belum ada alat komunikasi canggih seperti sekarang yang memicu pertumbuhan anak terutama pada perilaku. Dan predator anak juga belum banyak seperti sekarang.

Sekarang kondisi anak anak didik kita sangat moderat, bahkan dalam memilih kegiatan. Tidak ada sekolah hari ini yang mampu mengumpulkan anak anak dengan cepat. Karena banyaknya Guru Guru lain yang ada disekelilingnya, mulai dari gadget, game, mainan, tekonologi informasi, tawaran kegiatan yang dianggap lebih menarik dibanding di sekolah, yang pada akhirnya menduakan peran Guru bahkan mungkin hilang. Dan Guru mulai tidak ‘didengar’ anak anak didiknya. Guru saat ini lebih diartikan sebagai kewajiban kehadiran di sekolah, bukan pada figure seorang GURU lagi. Bahkan beberapa anak sangat gembira ketika Guru tidak bisa hadir di ruang kelas. Lainnya kekuatan figure Guru masih muncul di PAUD dan TK, itupun sudah kalah asyik dengan hal hal diatas tadi.

Bayangkan saja untuk menenangkan anak, ajaran Guru digadaikan orang tua dan menggantinya dengan mahluk yang disebut gadget: ada handphone, game, mainan, kegiatan menarik lainnya di luar sekolah. Kewibawaan Guru yang dulu sebagai tempat bertanya semakin hilang. Mungkin kalau dihitung prosentase anak yang mau bertanya ke Gurunya, maka jawabannya adalah Google, Youtube, Facebook, Twitter, Istagram, Path, Dubsmash, dan banyak lagi. Tempat bertanya, tempat ingin tahu, tempat bercerita GURU sudah digantikan itu semua. Adapun yang terampil bercerita lebih diisi para pendongeng yang belakangan menjadi profesi yang banyak dibutuhkan masyarakat pada acara sosial di keluarga dan sekolah.

Karena perkembangan jaman, Guru juga banyak disibukkan dengan beban formal pendidikan, baik untuk sekolah maupun meningkatkan sertifikasinya yang berdampak pada pendapatan. Adapun yang ingin mendapatkan pendidikan berkualitas umumnya digerakkan oleh fasilitas dan system sekolah bertaraf Internasional alias juga bertarif Internasional. Guru tinggal menghantarkannya saja kepada anak didik. Artinya peran GURU  sudah banyak terganti dengan teknologi dan informasi. Bisa dibayangkan ketika Guru sama sekali tidak tahu hal ini. Mungkin murid muridnya akan mencemoohnya bahkan meninggalkannya.

Apa yang harus dilakukan GURU yang hadir di abad teknologi informasi ini. Praktis peran Visual Fisik Guru yang terlalu sering dengan anak anak, kurang disukai peserta didik. Visual yang dikagumi bila pendidikan di ajarkan GURU mulai dengan alat alat canggih, berlampu warna warni, dan tampilan yang menganggumkan serta menantang dan berpetualangan. Semuanya harus muncul dicampur mix, bilingual dengan dinamika yang tinggi. Bak Game dan Hiburan yang biasa mereka tonton dan mainkan.

Terlalu berlebihan nampaknya, namun hampir semua guru harus punya kemampuan multi, artinya sekarang tidak bisa hanya mampu menjadi pengajar, namun juga menjadi pendidik dan pengasuh yang menguasai dunia anak jaman sekarang. Guru yang ideal bagi anak anak adalah guru yang gaul dengan dunia mereka sekarang. Ketika Guru tidak dapat masuk dengan kondisi ini, maka dipastikan anak anak akan ‘lebih tahu dari mereka’. Suatu saat ada anak yang melakukan hal menggurui mereka dan hal itu membuat kecewa gurunya, dan GURU akan mulai bilang ini pengaruh di rumah, sosial media, tontonan, televisi dan lingkungan. Artinya Guru meninggalkan idola mereka. Sekarang Idola ini ada baiknya diterjemahkan dengan memasukkannya menjadi nilai nilai etika, nilai nilai agama, nilai nilai moral, nilai nilai kehormatan yang mengarah dan diramu menjadi pendidikan karakter dan pendidikan holistik.

Tanpa mengurangi peran dan kehormatan seorang GURU. GURU adalah lingkungan kedua bagi anak. Ketika lingkungan keluarga tidak bisa menyelematkan si anak, maka lingkungan kedua adalah pendidikan yang diperankan oleh seorang GURU. Jika ini juga tidak dapat menyelamatkan si anak maka Idolanya akan digantikan orang lain. Siapa Idola mereka?, sambil membaca tulisan tadi, -mari lihat wajah anak kita masing masing dan renungkan dalam-dalam. Tentunya selintas ujung harapan kita masih berharap pada guru, ya guru guru, guru kita juga dulu. Yang menghantarkan kita seperti saat ini, kurang dan lebihnya kondisi kita sekarang.

Untuk itu sudah sepantasnya kita menguatkan dan mengembalikan kembali peran GURU untuk mendukung pengasuhan kita di keluarga. Bahwa perubahan perilaku yang beradaptasi dengan nilai nilai moral, estetika dan kehormatan lebih wajib dimunculkan Guru dan Orang Tua melalui pengasuhan bersama. Ya dengan Guru dan Kita. Jangan sampai dengan tantangan yang berat ini, KITA meninggalkan GURU. Karena GURU adalah lingkungan kedua setelah KITA baik di sekolah, madrasah, asrama maupun pesantren. Dan kelihatannya kita harus mengkoreksi kalau masih berkata ‘ini salah Guru’.

 

 

About Admin

Check Also

IMG-20181006-WA0036.jpg

8 Dokter Bhinneka Tunggal Ika Siap Bantu Kesehatan Anak Di 64 Panti

Dalam keterangan dokter Linda koordinator lapangan gerakan Dokter Bhineka Tunggal Ika, para Dokter yang bertugas …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *