Home / KBAI Reportase / Naik Kereta Dua Jaman, Beda Peradaban, Beda Perlakuan

Naik Kereta Dua Jaman, Beda Peradaban, Beda Perlakuan

Kenikmatan memandangi jendela kereta di pagi hari, melihat barisan pohon, sawah, awan yang seperti berlarian. Sedap hijau dipandang. Tapi itu juga bayangan saya untuk kemandirian bagi disabilitas paraplegia pengguna kursi roda, indah seperti memandang alam dari jendela kereta. Karena pagi tadi ngeri bangetz diangkat angkat tinggi para porter agar bisa masuk di kereta dan duduk.

Diangkat porter masuk kereta

Itulah yang disampaikan Catur Sigit Nugroho pengguna kursi roda yang menyebarkan gambar ia naik Kereta Sawunggalih di Stasiun Pasar Senen. Dalam foto itu Catur membandingkan ketika ia naik MRT di Stasiun Bundaran HI. Katanya hari ini masih ada beda peradaban di kereta MRT dan Kereta Sawunggalih yang ia tumpangi di Pasar Senen untuk menuju Stasiun Kutoarjo Kebumen.

Gambar Atas: Saat Catur naik MRT. Gambar bawah: Saat Catur di Stasiun Pasar Senen

Dalam wawancara singkat di telepon, ia menyampaikan sudah sampai Stasiun Cirebon. Awalnya berangkat jam 6 pagi tadi dengan jasa transportasi online dari Pondok Bambu Jakarta Timur. Sesampai di stasiun Pasar Senen lancar lancar saja. Tetapi ketika pengumuman kereta akan berangkat, saya kesulitan naik. Karena antara platform kereta dan stasiun sangat tinggi untuk dilewati kursi roda. Sehingga harus diangkat tinggi tinggi, ngeri, ujarnya.

Petugas di lapangan sejak masuk Stasiun tidak ada yang memandu dan lebih meminta saya cari porter, mungkin sibuk semua petugasnya. Padahal dalam Peraturan Menteri Perhubungan jelas menyampaikan respon layanan khusus harus dilakukan petugas, yang sedari awal harusnya proaktif mengarahkan layanan khusus.

Akhirnya saya harus sewa porter untuk naik kereta. Karena memang harus diangkat banyak porter untuk sampai ke kursi kereta. Berat kursi roda saya 15 kilo dan saya sendiri 45 kg. Jadi kebayang kan beratnya.

Rincian Biaya Tiket Online

Begitupun sesampai di Stasiun Kebumen akan sewa porter lagi. Dan diangkat angkat tinggi lagi, dengan kengerian juga karena diangkat tinggi. Artinya disana juga ada biaya tambahan, jadi setengah dari harga tiket untuk bayar porter saja.

Tiket Kereta Api Sawunggalih

Coba bayangkan tiket harganya 218 ribu, Sewa Porter 1 orang 50 ribu, untuk kursi roda tidak mungkin diangkat 1 orang, belum lagi barang bawaan.

Karena itu bagi disabilitas pengguna kursi roda seperti saya, butuh banget Bu Menkeu segera memutuskan RPP Konsesi dan Insentif, untuk sedikit membantu biaya hidup disabilitas yang memang banyak biaya tambahan untuk mengakses banyak ruang dalam hidupnya.

Sebagai disabilitas yang mandiri, dan penghasilan pas UMR, biaya hidup disabilitas masih sangat tinggi di Indonesia. Akibat hambatan hambatan seperti di stasiun dan asuk kereta menyebabkan saya butuh jasa berbayar. Dengan RPP ini kemudahan dalam layanan pembiayaan sangat dibutuhkan.

Gambar ruang kaki yang sempit

Untuk perjalanan panjang, saya juga tidak selalu bisa duduk di kursi kereta, karena kursinya kurang nyaman buat disabilitas paraplegia yang dari pingang sampai kaki lumpuh layu dan mengandalkan kedua tangan ketika pindah dari kursi kereta kembali ke kursi roda .

Untuk membuka kursi roda dikereta tidak ada ruang yang cukup. Kalau boleh milih lebih nyaman duduk di kursi roda, karena ada sabuk pengaman, sehingga tidak melorot ke bawah. Maklum saja dari pingang sampai kaki lumpuh layu sehingga tidak bisa menahan anggota tubuh atas, sering melorot.

Posisi kursi kereta juga menjadi masalah sendiri, Untuk saya yang kurus dan tinggi 150, Kursi kereta terlalu sempit, paha mentok ke kursi depannya. Sehingga sulit untuk pindah ke kursi roda ketika ingin ke kamar kecil, apalagi turun. Untuk pindah dari kursi kereta ke kursi roda saya mengangkat tubuh dengan tangan saya. Memang sehari hari untuk berpindah seperti dari kursi roda ke mobil, ke kursi, ke tempat tidur saya mengandalkan kedua tangan, yang tentu jarak angkatnya harus sangat dekat bahkan mepet.

Bagi Catur ia tidak akan pernah kapok naik kereta, meski harus persiapkan uang ekstra. Karena memperhatikan kondisi disabilitasnya dan faktor keselamatan dijalan. Saya berterima kasih ada kereta, namun tinggal peningkatan layanan kemandirian bagi disabilitas yang perlu perhatian, tutupnya.

Ia punya harapan jelang 17 September Hari Perhubungan Nasional ada komitmen perubahan layaman khusus untuk penyandang disabilitas kursi roda sepertinya di kereta. Baginya transport paling aman bagi penyandang disabilitas adalah kereta dan kapal laut. Semoga jadi perhatian segenap pekerja transportasi dan kementerian perhubungan.

Check Also

KPAI vs Djarum Chapter 3 (Penutup): Pendapat Para Tokoh, Jalan Tengah dan Harapan

Oleh Muhammad Ridwan – Manajer Program Yayasan Kita Bersama Anak Indonesia Tak lama setelah KPAI …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: