Home / KBAI Reportase / Harapan Seorang Okupasi Terapis di Hari Down Syndrome Internasional

Harapan Seorang Okupasi Terapis di Hari Down Syndrome Internasional

Sejak 2003, lulus dari Okupasi Terapi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia saya memilih menjadi terapis Anak-anak Berkebutuhan Khusus, salah satunya Down Syndrome.

Dimulai pengalaman yang sudah saya peroleh dari sekolah inklusi, klinik, rs swasta, sekolah khusus sampai lembaga homeshooling. Akhirnya membuka tempat terapi sendiri dengan didukung fasilitas seadanya.

Cerita perjuangan

Saat ini, sudah tidak terhitung orangtua yang menunggu pengabdian saya sebagai Okupasi Terapis, yang memang merupakan profesi langka di Indonesia.

Seperti kejadian di Jakarta Utara puluhan Anak Berkebutuhan Khusus tidak bersekolah karena ditolak, sedangkan ABK di sekolah inklusi pun sangat mengkhawatirkan. Karena tidak tertangani dengan baik.

Hal itu terjadi karena keterbatasan pengetahuan, keterbatasan SDM pendidik yang membuat masa depan ABK tidak menjanjikan.

Dengan kepedulian Kasudin Wilayah I Jakarta Utara Budi Sulistyo dan Siti Aisyah pengawas SLB, saya ikut volunteer agar bisa membantu memberi solusi dan membuat rintisan SLB percontohan dengan standar pelayanan yang sesuai.

Ketika mimpi ini bisa terwujudkan, saya ingin sekali melakukan hal yang sama di tanah kelahiran saya, Depok.

Cita cita membuat sekolah ABK dengan biaya terjangkau, serta memiliki standard pelayanan dan penanganan yang tepat.

Kebanyakan Anak Berkebutuhan Khusus, salah satunya Down Syndrome berhasil mengembangkan dirinya jika diberi keterampilan.

Hanya sayangnya belum ada tempat pelatihan dari pemerintah khusus anak Down syndrome dan ABK yang memberikan pelatihan keterampilan, agar mereka siap bekerja di lingkungan masyarakat dan siap menyalurkan kemampuan mereka, sesuai keterampilan yang dimiliki.

Dengan kepedulian masyarakat yang sangat rendah, saya bergabung dengan perintis Jakarta Ramah Autis bentukan dari MPATI ( masyarakat peduli autis Indonesia) dan dinas sosial DKI Jakarta.

Dengan cara ini saya bisa ikut andil memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang autisme, ABK, dan perbedaan antara Down Syndrome dan Autisme.

Perjalanan sebagai perintis dari kota ke kota di Indonesia membuat saya semakin tergugah” semakin membuat tekad kuat untuk terus berbagi ilmu, untuk terus berjuang membuat mereka diterima dan diakui di lingkungan masyarakat. Dan menyuarakan pelayanan dan penanganan yang tepat untuk mereka.

Seiring dengan itu semakin banyak orangtua yang mengkhawatirkan masa depan ABK.

Mereka membuat saya bertekad merintis sekolah anak anak berkebutuhan khusus di Depok.

Seraya berharap mimpi ini menjadi kenyataan dan semakin banyak orang-orang yang peduli terhadap masa depan mereka.

Salam sayang untuk Anak Berkebutuhan Khusus di seluruh Dunia

Kami mencintai dan menerima setiap kelebihan dan kekuranganmu..

Hope for the better future..

Sofa Bassal A.Md. OT

Check Also

Viral Video Kekerasan Anak Di Tangsel: Pentingnya Negara Memiliki Daftar Keluarga Pengganti

Kasus kekerasan dan perlakuan salah dialami seorang anak perempuan K berusia 5th, yang dilakukan sendiri …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: